Dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Sabtu (3/10/2015), Sekjen PBB menyatakan kesedihan mendalam setelah mengetahui penembakan brutal yang terjadi di Umpqua Community College, Oregon. Sedikitnya 9 orang tewas dan pelaku penembakan tewas ditembak polisi usai kejadian.
"Dalam menghadapi tragedi seperti ini, Sekretaris Jenderal menyampaikan harapan besar bahwa Amerika Serikat, melalui penguatan proses demokrasi yang menjadi karakternya, akan mampu mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengurangi jumlah korban tewas yang mengerikan yang disebabkan oleh kekerasan bersenjata di lingkungan masyarakat Amerika," ujar Sekjen Ban dalam pernyataannya melalui juru bicaranya, Stephane Dujarric.
Menurut data dari Mass Shooting Tracker, tercatat sedikitnya ada 142 insiden penembakan di sekolah AS dalam 3 tahun terakhir.
Selama ini, Sekjen PBB tergolong jarang memberikan komentar terhadap insiden penembakan yang terjadi di AS. Saat ditanya apakah PBB bisa membantu memperkuat pengendalian senjata api di AS, Dujarric menekankan bahwa AS harus mencari cara sendiri untuk menangani masalah dalam negerinya ini.
Namun, lanjut Dujarric, Sekjen Ban menekankan bahwa Presiden Barack Obama tergolong konsisten dalam menangani masalah kekerasan bersenjata di AS. "Secara konsisten menunjukkan komitmen dalam mengatasi persoalan ini," sebutnya.
Presiden Obama merasa geram dengan semakin maraknya penembakan di negaranya. Obama juga menyinggung agar peraturan kepemilikan senjata di Amerika Serikat lebih diperketat.
"Entah bagaimana, ini (penembakan) telah menjadi rutinitas," ujar Obama di Gedung Putih.
(nvc/try)











































