13 Senjata Api Disita dari Pelaku Penembakan di Kampus Oregon

13 Senjata Api Disita dari Pelaku Penembakan di Kampus Oregon

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 03 Okt 2015 10:23 WIB
13 Senjata Api Disita dari Pelaku Penembakan di Kampus Oregon
Chris Harper Mercer (REUTERS/via Myspace account of Chris Harper-Mercer)
Oregon - Pelaku penembakan brutal di kampus Oregon, Amerika Serikat, yang diidentifikasi sebagai Chris Harper Mercer diketahui sebagai penggemar senjata api. Kepolisian menemukan sejumlah besar senjata api dari kediaman pelaku.

Penembakan di Umpqua Community College, Oregon yang terjadi pada Kamis (1/10) waktu setempat ini menewaskan 10 orang, termasuk pelaku. Mercer yang berusia 26 tahun ini akhirnya tewas ditembak polisi usai melakukan aksi brutalnya.

"Sejauh ini kami menemukan 13 senjata api. Enam senjata api di antaranya ditemukan di kampus (lokasi kejadian), tujuh senjata api lainnya disita dari kediaman pelaku penembakan," tutur agen Biro Pengendalian Alkohol, Tembakau, Senjata Api dan Bahan Peledak AS, Celinez Nunez, seperti dilansir AFP, Sabtu (3/10/2015).

Ditambahkan Nunez, seluruh senjata api ini didapatkan oleh Mercer secara legal, yang artinya mendapatkan izin resmi. "Semuanya terlacak pada penjual senjata api federal," ucapnya dalam konferensi pers.

"Sebagai tambahan atas senjata yang disita, kami juga menemukan sebuah jaket flak (semacam rompi antipeluru) tergeletak di sebelah senapan yang ditemukan di kampus (lokasi kejadian), jaket itu dilengkapi dengan logam baja serta lima magasin terpasang di rompi tersebut," terang Nunez.

"Sejumlah amunisi tambahan juga ditemukan di apartemen (pelaku)," terangnya.

Otoritas setempat hingga kini masih menyelidiki lebih dalam insiden ini untuk mencari tahu motif pelaku. Beberapa laporan media setempat menyebut Mercer hanya ingin mencari ketenaran atas aksinya. Media setempat juga menyebut Mercer menderita gangguan mental.

"Dia (Mercer-red) tampak seperti pria muda yang pemarah dan dipenuhi kebencian," sebut seorang pejabat penegak hukum AS yang enggan disebut namanya seperti dikutip media setempat, New York Times. (nvc/try)


Berita Terkait