Penembakan di AS, Mahasiswa Panik dan Ngeri Mendengar 40 Tembakan

Penembakan di AS, Mahasiswa Panik dan Ngeri Mendengar 40 Tembakan

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 02 Okt 2015 10:37 WIB
Penembakan di AS, Mahasiswa Panik dan Ngeri Mendengar 40 Tembakan
penembakan di Oregon (Foto: Reuters/Michael Sullivan/The News-Review)
Oregon, - Aksi penembakan brutal kembali terjadi di Amerika Serikat. Para mahasiswa di kampus Umpqua Community College, tempat kejadian, menggambarkan suasana panik dan kengerian saat mereka lari menyelamatkan diri atau bersembunyi di ruang kelas-kelas.

"Saya mendengar kemungkinan 35 hingga 40 tembakan," tutur Cassandra Welding yang berada di ruang sebelah lokasi penembakan. Dikatakan mahasiswi itu, seorang temannya membuka pintu penghubung untuk melihat apa yang terjadi, namun dia ditembak.

"Kemudian kami mengunci pintu-pintu, mematikan lampu ... kami semua sangat panik dan menelepon 911 dan orangtua kami dan mengatakan "saya mencintaimu" karena kami tidak tahu apa yang akan terjadi, mungkin saja itu kata-kata terakhir kami," tutur Welding seperti dilansir AFP, Jumat (2/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami menaruh tas ransel kami di depan kami, kursi-kursi, apapun yang kami bisa, untuk melindungi diri kami jika dia masuk," imbuhnya.

Mahasiswi lainnya juga mengungkapkan kepanikan yang terjadi di kampus yang berada di Roseburg, Oregon tersebut. "Para mahasiswa berlarian ke mana-mana. Ya Tuhan," kata Kayla Marie lewat postingan di akun Twitternya.

Pelaku penembakan diidentifikasi sebagai Chris Harper Mercer yang berumur 26 tahun. Pria itu tewas ditembak polisi.

Penembakan yang menewaskan 10 orang ini membuat Presiden Barack Obama geram. "Entah bagaimana, ini (penembakan) telah menjadi rutinitas," ujar Obama di Gedung Putih.

Obama juga menyinggung agar peraturan kepemilikan senjata di Amerika Serikat lebih diperketat.

"Kami bisa melakukan sesuatu terkait kejadian ini, tapi kita harus mengubah hukum kita (terkait kepemilikan senjata). Tidak bisa dimudahkan seseorang yang ingin mencelakai orang lain untuk mendapatkan senjata," tegas Obama.

(ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads