Hal ini disampaikan Perdana Menteri Shinzo Abe di hadapan Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat pada Selasa (29/9). PM Abe juga menyerukan peran lebih besar bagi Jepang, kontributor terbesar kedua pada anggaran PBB, untuk menjadi anggota permanen Dewan Keamanan PBB.
Seperti dilansir AFP, Rabu (30/9/2015), bantuan kemanusiaan ini terdiri atas bantuan US$ 810 juta (Rp 11 triliun) untuk pengungsi Suriah dan Irak. Jumlah ini tiga kali lebih besar dari bantuan yang diberikan Jepang tahun lalu. Kemudian juga termasuk bantuan US$ 750 juta (Rp 10 triliun) untuk pembangunan infrastruktur di wilayah Timur Tengah dan juga Afrika yang dilanda konflik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masing-masing bantuan ini adalah langkah menangkal situasi darurat yang mampu dilakukan Jepang," tutur PM Abe dalam Sidang Majelis Umum PBB.
Perang Suriah yang kini memasuki tahun kelima memicu krisis pengungsi besar-besaran ke wilayah Eropa, bahkan tercatat sebagai yang terburuk sejak Perang Dunia II. Dilaporkan ada sekitar 4 juta orang yang melarikan diri ke luar negeri.
"Masalah terbesar tahun ini adalah eksodus sejumlah besar pengungsi ke Eropa dari Timur Tengah dan Afrika Utara. Penyebab tragedi ini adalah ketakutan akan kekerasan dan terorisme, dan teror kemiskinan. Dunia harus bekerja sama demi mencari solusi bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan," tandas PM Abe dalam konferensi pers di New York usai berpidato di Sidang Majelis Umum PBB.
Media lokal di Jepang sebelumnya melaporkan bahwa PM Abe akan sedikit terbuka untuk menampung pengungsi Suriah, namun PM Abe membantah hal ini. "Ada banyak hal yang harus kami lakukan sebelum menampung imigran," ucapnya merujuk pada aturan imigrasi yang ketat di Jepang serta persoalan internal lainnya yang tengah dihadapi Jepang. (nvc/ita)











































