Seperti dilansir AFP, Selasa (29/9/2015), insiden ini berawal ketika Dubes China untuk Malaysia, Huang Huikang, mengunjungi kawasan pecinan di Kuala Lumpur pada Jumat (26/9) lalu. Kawasan itu sebelumnya menjadi lokasi unjuk rasa propemerintah pada awal bulan ini. Dalam unjuk rasa itu, para demonstran yang didominasi etnis Melayu meneriakkan slogan anti-etnis China.
"Pemerintah China menentang terorisme dan setiap bentuk diskriminasi terhadap ras dan setiap bentuk ekstremisme," ucap Dubes Huang dalam kunjungannya, seperti dikutip surat kabar Malaysia, The Star.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan Dubes Huang ini dianggap tidak sejalan dengan kebijakan China yang tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman, yang sedang menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, ikut berkomentar mengenai pemanggilan ini. "Untuk memverifikasi apakah pernyataan ini salah disalahartikan atau sebaliknya," tutur Anifah.
Secara terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei membela Dubes Huang dengan menyebut pernyataan tersebut wajar. "Kami menahan diri dari mencampuri urusan dalam negeri negara-negara lain," tegasnya.
"Apa yang dilakukan duta besar kami adalah wajar, dia mengunjungi komunitas etnis China saat festival pertengahan musim semi. Kami berharap bahwa Malaysia bisa tetap bersatu dan stabil, dan orang-orang dari berbagai kelompok etnis berbeda bisa hidup berdampingan dalam damai," imbuh Hong Lei. (nvc/mad)











































