Menurut otoritas Pulau Mayotte, seorang wanita yang tewas tersebut berusia sekitar 20 tahun. Selain ibu dan 2 anak itu, ada sekitar 7 atau 8 orang yang terbawa arus ke daratan akibat terbaliknya kapal itu.
"Jumlah korban sementara 3 tewas. Tubuh seorang wanita dan 2 anaknya ditemukan oleh polisi unit maritim," ujar Jaksa Mayotte, Joel Garrigue seperti dilansir AFP, Selasa (29/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Diperkirakan sekitar 30 penumpang berada di perahu kecil yang terbalik ini. Tujuh atau 8 orang terbawa hingga ke daratan," katanya.
Atas kejadian ini, tidak menutup kemungkinan adanya upaya perdagangan manusia. Untuk itu penyelidikan dugaan pembunuhan juga telah dibuka. "Dengan hukuman penjara sekitar 10 tahunan," tambah Garrigue.
Kecelakaan kapal seperti ini sering terjadi di Mayotte yang merupakan bagian dari Kepulauan Komoro di Samudera Hindia yang tetap memilih berada di bawah kekuasaan Prancis. Banyak orang Komoro berharap dapat menemukan pekerjaan atau perawatan medis di Mayotte.
Para imigran ini mempertaruhkan hidupnya berlayar hanya dengan perahu kayu nelayan yang reyot di Samudera Hindia. Banyak yang akhirnya kandas akibat menabrak terumbu karang. Didokumentasikan, 2/5 dari 200 ribu penduduk di Mayotte merupakan imigran.
Perahu biasanya membawa calon migran dari kepulaan Komoro ke pulau lain, sebab perahu merupakan sarana penghubung antar pulau di Komoro. Banyak warga Kepulauan Komoro keluar dengan perahu kayu untuk mendapat penghidupan yang lebih layak. Mayoritas memilih Mayotte yang dianggap keadaan ekonominya lebih baik karena berada di bawah kekuasaan Prancis. (elz/hri)










































