Dalam wawancara dengan surat kabar Italia, La Stampa dan dilansir Reuters, Rabu (23/9/2015), Menlu Kerry menyatakan dirinya telah memberitahu Menlu Rusia Sergei Lavrov soal kekhawatiran AS atas dukungan militer Rusia terhadap rezim Assad.
"Aksi ini bisa memprovokasi semakin meluasnya konflik dan memicu hilangnya lebih banyak nyawa tak berdosa, serta semakin menambah jumlah pengungsi dan meningkatkan risiko konfrontasi dengan koalisi anti-ISIS yang beroperasi di Suriah," sebut Kerry.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan pengerahan militer Rusia ke wilayah Suriah, dikhawatirkan operasi kedua negara akan berbenturan. Selain AS, Israel juga mengkhawatirkan adanya benturan dengan operasi militernya di Suriah. Israel juga melancarkan operasi udara terhadap kelompok militan di Suriah bagian selatan.
Rusia dilaporkan tengah berusaha membangun pangkalan militer di Suriah. Sumber pejabat AS sebelumnya menuturkan, Rusia telah mengirimkan 25 jet tempur, 15 helikopter, 9 tank, tiga sistem rudal darat-ke-udara dan sedikitnya 500 personel militer ke pangkalan udara Latakia di Suriah.
Hal ini memicu spekulasi soal misi udara Rusia di wilayah konflik tersebut. Terlebih baru-baru ini, pejabat AS yang enggan disebut namanya menyebut Rusia mulai menerbangkan drone atau pesawat tak berawak di atas wilayah Suriah. Ini merupakan operasi udara pertama Rusia semenjak mengerahkan militer ke wilayah tersebut. (nvc/ita)











































