"Ada kekhawatiran besar bahwa militan di Jerman, dengan dalih menawarkan bantuan kemanusiaan, berusaha memanfaatkan situasi para imigran untuk mengubah dan merekrut para pencari suaka," tutur Presiden BfV, Hans-Georg Maassen seperti dilansir Reuters, Selasa (22/9/2015).
"Perhatian kami, khususnya, fokus pada pengungsi-pengungsi muda yang sendirian, yang bisa menjadi sasaran mudah militan," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penggerebekan ini juga terkait jaringan perekrut bagi Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), yang melibatkan warga Maroko berusia 51 tahun dan warga Macedonia berusia 19 tahun.
Sekitar 740 anggota militan Jerman, yang seperlimanya wanita, telah pergi ke Suriah dan Irak. Dari jumlah itu, sekitar sepertiganya telah pulang kembali ke Jerman, sedangkan sekitar 120 orang lainnya tewas dalam pertempuran di Suriah dan Irak.
Pernyataan Maassen ini akan memicu perdebatan di Jerman, terutama soal cara negara ini menangani gelombang pengungsi di Eropa. Namun Maassen menyatakan belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa militan menyusup ke dalam gelombang pengungsi. (nvc/ita)










































