Kisah 58 pembelot ini dipublikasikan oleh International Centre for the Study of Radicalization (ICSR) pada King's College London. ICSR merangkum kisah para pembelot ini dari sejumlah media dan sumber yang pernah mewawancarai mereka.
Salah satunya ialah seorang pembelot ISIS asal Inggris yang bersedia untuk berbicara kepada peneliti ICSR pada Agustus 2014 lalu. Menurut pembelot ini, dirinya dan puluhan rekannya pergi ke Suriah karena ingin melawan pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun apa yang mereka lihat di lapangan saat tiba di Suriah, sangat berbeda sekali. "Muslim berperang melawan muslim. Assad terlupakan. Keseluruhan jihad sudah diputarbalikkan," terangnya.
Keterangan pembelot asal Inggris ini senada dengan keterangan pembelot lainnya. "ISIS ingin membunuh semua orang yang melawan mereka. Setiap orang harus mendukung mereka," cerita salah satu pembelot ISIS berusia 26 tahun kepada NPR, tahun 2014 lalu.
ICSR menyatakan keterangan para pembelot ini bisa dianggap kredibel. ICSR menyebut pengakuan semacam ini bisa menjadi penting dalam mencegah kaum muda dari radikalisasi dan direkrut ISIS. ICSR juga mendorong pemerintah negara-negara di dunia untuk menghilangkan penghalang bagi pembelot yang ingin berbicara kepada publik. Sebab, masih banyak pembelot ISIS di luar sana yang enggan berbicara ke publik karena takut diadli.
"ISIS tidak melindungi muslim. Mereka membunuhnya," tandas ICSR dalam laporannya. (nvc/ita)











































