"Ketika saya membaca kisah Ahmed...saya berkata 'Ya Tuhan, bagaimana bisa ini terjadi lagi?' (Dalam kasus saya) Terkadang saya berpikir ini bermuatan rasial dan terkadang saya berpikir ini bodoh," tutur Wilmot kepada ABC News seperti dikutip pada Sabtu (19/9/2015).
Pada April 2013, Wilmot membawa proyek sains buatannya ke sekolahnya, Bartow High School di Florida. Proyek sains yang dimaksud adalah gunung berapi buatan yang sangat ingin dia tunjukkan pada gurunya di sekolah. Wilmot yang kini berusia 19 tahun menuturkan, proyek sains buatannya itu lebih canggih dari sekadar 'gunung berapi cuka dan soda kue' yang biasa dibuat anak-anak sekolah di AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak ada siswa yang luka-luka dan tidak ada properti sekolah yang rusak akibat insiden ini. Namun Wilmot yang saat itu berusia 16 tahun dipanggil oleh Dewan Sekolah. Ditambah guru sains yang tadinya akan ditunjukkan proyek itu menuturkan kepada otoritas sekolah bahwa tidak ada jadwal penyerahan tugas sains pada saat kejadian. Wilmot yang diborgol langsung dibawa ke penjara remaja setempat dan ditahan atas dakwaan membuat bom.
"Saya menangis begitu mereka memberitahu saya. Ketika mereka mengambil sidik jari dan mengambil foto mugshot, saya berkata 'Ya Tuhan, saya sungguh pelaku kriminal. Saya tahu saya tidak melakukan hal yang salah, tapi saya merasa saya harus meyakini bahwa saya melakukan hal yang salah," cerita gadis keturunan Afrika-Amerika ini ini.
Wilmot dijatuhi sanksi skorsing 10 hari dari pihak sekolah. Selang sebulan setelah insiden itu, dakwaan pidana terhadap Wilmot ditangguhkan otoritas Florida. Sama seperti Ahmed, saat itu Wilmot juga menjadi perhatian media. Dia melanjutkan sekolah dan kini menjadi mahasiswa di Florida Polytechnic.
"Saya ingin memberitahu Ahmed, bahwa dia harus tetap mengangkat kepalanya tegak. Dia harus menunjukkan kepada mereka bahwa dia tidak akan membiarkan orang-orang bodoh itu menghancurkannya," cetus Wilmot. (nvc/try)











































