Dalam suratnya kepada orang tua dan wali murid, Kepala Sekolah MacArthur High School, Dan Cummings menyatakan bahwa keselamatan para murid selalu menjadi prioritas. Cummings juga menyebut, pihak sekolah selalu berupaya melakukan langkah pencegahan atas setiap ancaman yang muncul.
Pernyataan ini dirilis usai insiden penangkapan dan pemborgolan Ahmed (14), murid kelas 9 sekolah tersebut, yang jam digital rakitannya dikira bom. Namun sayangnya, pernyataan Cummings ini terkesan menyalahkan Ahmed yang dianggap melanggar Kode Etik Siswa yang berlaku di sekolah itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Juga, ini saat yang baik untuk mengingatkan anak Anda soal betapa pentingnya untuk segera melaporkan setiap benda maupun perilaku mencurigakan yang mereka lihat kepada staf (guru) sekolah, agar kita bisa segera menanganinya. Kami akan selalu mengambil langkah pencegahan untuk melindungi murid-murid kami," imbuh pernyataan tersebut.
Akibat insiden yang terjadi pada Senin (14/9) lalu ini, Ahmed dijatuhi sanksi skorsing oleh sekolahnya selama 3 hari, mulai Selasa (15/9) hingga Kamis (17/9). Namun pada Jumat (18/9) waktu setempat, Ahmed tidak masuk sekolah setelah dia menyatakan ingin pindah sekolah. Belum diketahui pasti ke mana remaja cerdas yang menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi ini akan bersekolah selanjutnya.
Sementara itu, keluarga dan pendukung Ahmed menggelar aksi doa bersama di depan MacArthur High School pada Kamis (17/9) malam waktu setempat. Aksi ini juga menjadi aksi protes terhadap Islamofobia yang merajalela di wilayah AS. Para pendukung Ahmed meminta diskriminasi berdasarkan ras dan agama untuk diberantas. (nvc/try)











































