"Satu hal yang jelas bagi saya, terlepas dari apa yang telah kami lakukan, tidak peduli putusan yang telah diambil, akan ada orang-orang yang setuju dan orang-orang yang tidak setuju," tutur Kepala Kepolisian Irving, Larry Boyd kepada CNN dan dilansir Reuters, Sabtu (19/9/2015).
Ahmed yang duduk di bangku kelas 9 di MacArthur High School, Irving, Dallas, Texas ini diborgol polisi pada Senin (14/9), setelah pihak sekolah mencurigai dirinya membawa bom rakitan ke sekolah. Padahal saat itu, Ahmed hanya ingin menunjukkan jam digital rakitannya kepada gurunya di sekolah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Boyd tetap membela putusan yang diambil pihaknya. "Polisi telah mengambil keputusan terbaik yang mereka pikir bisa mereka lakukan saat itu, berdasarkan informasi yang mereka memiliki," ucapnya.
"Tentu kami akan mengkaji keputusan ini. Tentu kami ingin melihat ke belakang dan merenungkan hal ini dan seluruh keputusan dan alternatifnya, dan memastikan kami memberikan panduan terbaik bagi anak buah kami, karena ini tidak akan menjadi keputusan kontroversial yang akan mereka ambil," imbuh Boyd.
Boyd mencoba menjelaskan dari sisi penegak hukum, dengan menyebut bahwa saat itu polisi berusaha mencari tahu motif Ahmed membawa jam digital rakitannya itu ke sekolah. Pihak sekolah berusaha menanyai Ahmed untuk memahami apa tujuannya membawa benda yang sempat diduga bom rakitan itu.
Atas kasus ini, kepolisian Texas menyatakan tidak akan menjeratkan dakwaan pidana kepada Ahmed. Mereka juga menyatakan, kasus Ahmed ini telah resmi ditutup. (nvc/try)











































