"Saya merasa sangat sedih, dia (guru Bahasa Inggris) salah menilai jam buatan saya (dikira bom)," kata Ahmed seperti dikutip dari People, Jumat (18/9/2015).
"Saya berpikir untuk pindah sekolah dari MacArthur ke sekolah lain," tambahnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sangat ingin ke MIT," ucap Ahmed seperti dilansir newspress.com.
MIT yang mengetahui keinginan Ahmed langsung menyambut baik. Presiden MIT, L Rafael Reif, menulis di twitternya bahwa universitas itu senang Ahmed tertarik sekolah di Science, Technology, Engineering, and Math (STEM) dan MIT.
"Membuat sesuatu=menciptakan masa depan. Kami sangat senang Ahmed tertarik #STEM dan di MIT!- Presiden Reif"
Foto: Do Twitter |
Ahmed membuat sebuah jam digital untuk ditunjukkan kepada guru tekniknya pada Senin (14/9) agar dia terkesan dan Ahmed bisa masuk dalam klub robotik di sekolah. Guru teknik menyebut jam buatan Ahmed keren, lalu dia menyarankan agar Ahmed tidak menunjukkan jam itu kepada guru yang lain.
Foto: Reuters |
Namun saat jam pelajaran Bahasa Inggris, jam tersebut berbunyi. Guru Bahasa Inggris bertanya dan melihat jam tersebut. Guru tersebut menyangka jam Ahmed adalah sebuah bom. Ahmed lalu dilaporkan ke polisi, dia diborgol dan diinterogasi. Polisi sudah merilis bahwa jam itu bukan bom. Ahmed lalu dibebaskan.
Kasus ini menghebohkan Amerika Serikat karena polisi dan guru dianggap diskriminatif. Ahmed mendapat banyak dukungan di media sosial, mulai dari Presiden Obama, CEO Facebook Mark Zuckerberg, bakal calon presiden AS dari Partai Demokrat Hillary Clinton, NASA, Google hingga Twitter. Ahmed bahkan diundang Obama ke Gedung Putih dan CEO Facebook mengundang Ahmed ke kantornya. (slm/mad)












































Foto: Do Twitter
Foto: Reuters