Inggris Klaim Serangan Udaranya Tewaskan 330 Anggota ISIS

Inggris Klaim Serangan Udaranya Tewaskan 330 Anggota ISIS

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 17 Sep 2015 15:16 WIB
Inggris Klaim Serangan Udaranya Tewaskan 330 Anggota ISIS
Ilustrasi (Rodi Said/REUTERS)
London - Otoritas Inggris telah melancarkan serangan udara terhadap militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), sejak September 2014. Serangan udara yang difokuskan di Irak itu diklaim telah menewaskan 330 anggota ISIS.

"Jumlah ini perkiraan paling tinggi, tentu tanpa terlepas dari absennya tentara Inggris di lapangan dalam posisi untuk mengamati dampak dari serangan," ujar Menteri Pertahanan Inggris, Michael Fallon, seperti dilansir Reuters, Kamis (17/9/2015).

"Kami meyakini tidak ada korban warga sipil dari serangan udara Inggris," imbuhnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Militer Inggris secara aktif melancarkan serangan udara terhadap target-target ISIS di Irak, sebagai bagian dari koalisi militer Amerika Serikat. Namun negara ini tidak ikut serta dalam operasi militer terhadap ISIS di Suriah.

Ini karena Perdana Menteri David Cameron kalah dalam voting di parlemen soal aksi militer terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad pada tahun 2013. Namun PM Cameron masih berharap untuk mendapat dukungan parlemen Inggris, untuk memperluas aksi militer terhadap ISIS di Suriah. Namun Fallon menyebut posisi ini tidak logis.

Beberapa anggota Partai Konservatif, partai yang menaungi PM Cameron, ikut menentang rencana perluasan aksi militer ke Suriah. Ditambah dengan keberadaan pemimpin oposisi yang baru terpilih dari Partai Buruh, Jeremy Corbyn yang dikenal antiperang, tentu akan semakin mempersulit voting parlemen.

Awal bulan ini, PM Cameron mengakui ada dua warga negara Inggris yang diketahui bertempur untuk ISIS di Suriah, tewas akibat serangan drone militer Inggris. Meskipun Inggris tidak ikut dalam operasi militer di Suriah, PM Cameron mengakui bahwa serangan itu direncanakan sebelumnya, demi mempertahankan diri karena salah satu warga Inggris itu merencanakan serangan teror di Inggris. (nvc/ita)


Berita Terkait