Kepolisian menyatakan, pihaknya melepas tembakan setelah para demonstran melemparkan bom bensin dan batu-batu ke aparat polisi. Massa juga menyerang mobil-mobil polisi dan merusak sebuah kantor polisi di distrik Rupandehi, Nepal selatan pada Selasa, 15 September malam waktu setempat.
Saat kejadian, para demonstran tengah berunjuk rasa untuk memprotes sebuah konstitusi nasional baru yang akan diperkenalkan pekan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sayangnya, di antara mereka termasuk seorang anak laki-laki empat tahun," imbuhnya.
Lebih dari 40 orang telah tewas dalam bentrokan ganas antara aparat polisi dan para demonstran di wilayah Nepal selatan sejak Agustus lalu. Aksi-aksi demo tersebut terjadi sejak partai-partai politik utama mencapai kesepakatan bersejarah soal konstitusi baru.
Para korban jiwa tersebut termasuk 11 polisi dan bayi laki-laki berumur 18 bulan, putra seorang polisi yang tewas ketika para demonstran melepas tembakan di luar rumahnya.
Konstitusi yang diributkan adalah mengenai aturan untuk membagi bangsa Himalaya itu menjadi tujuh provinsi. Konstitusi ini mendapat penolakan keras dari sejumlah kelompok minoritas yang menganggap aturan perbatasan baru tersebut akan membuat mereka kurang terwakili dalam parlemen nasional.
(ita/ita)











































