Akui Warganya Disandera ISIS, China Ambil Langkah Darurat

Akui Warganya Disandera ISIS, China Ambil Langkah Darurat

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 11 Sep 2015 18:58 WIB
Akui Warganya Disandera ISIS, China Ambil Langkah Darurat
Ilustrasi (ebcitizen.com)
Beijing - Otoritas China membenarkan ada seorang warganya yang disandera militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di Suriah. Mengupayakan langkah-langkah untuk menangani situasi penyanderaan ini.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (11/9/2015), pekan ini ISIS melalui majalah online berbahasa Inggris, Dabiq mempublikasikan dua foto pria yang disebut sebagai tahanan. Satu pria disebut berasal dari Norwedia dan satunya lagi dari China, yang diidentifikasi sebagai Fan Jinhui.

"Setelah verifikasi awal terhadap laporan media terkait soal dua sandera (ISIS), salah satunya cocok dengan karakteristik warga negara China yang hilang di luar negeri," tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei kepada wartawan setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hong menyatakan, otoritas China telah mengambil mekanisme darurat untuk menanggapi situasi ini. Hong juga menegaskan bahwa pemerintah China tegas menentang setiap bentuk kekerasan terhadap warga sipil tak bersalah. Namun sayangnya, Hong tidak menjelaskan lebih lanjut mekanisme darurat yang dilakukan otoritas China.

Majalah online ISIS menyebut Fan berusia 50 tahun dan bekerja sebagai freelance consultant asal Beijing. Diberikan juga nomor telegram untuk pihak-pihak yang bersedia membayar uang tebusan. Namun tidak diketahui pasti sejak kapan dia disandera dan berapa tebusan yang diminta.

Media lokal China, Beijing News melaporkan pihaknya menemukan perusahaan periklanan di Beijing yang alamatnya tercantum sebagai alamat Fan di majalah ISIS tersebut. Namun saat didatangi, kantor perusahaan tersebut tidak ada orangnya.

Ketika warga setempat ditunjukkan foto Fan, beberapa orang mengaku tidak begitu mengenalnya. "Wajahnya tidak asing, tapi dia sudah lama tidak terlihat di sini," tutur seorang warga setempat yang enggan disebut namanya. (nvc/mok)



Berita Terkait