ISIS Gunakan Foto Bocah Imigran untuk Peringatkan Pengungsi Suriah

ISIS Gunakan Foto Bocah Imigran untuk Peringatkan Pengungsi Suriah

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 10 Sep 2015 18:33 WIB
ISIS Gunakan Foto Bocah Imigran untuk Peringatkan Pengungsi Suriah
Bocah imigran Suriah yang tewas, digendong polisi Turki (REUTERS/Nilufer Demir/DHA)
Damaskus - Foto jasad balita imigran Aylan Kurdi dimanfaatkan militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) untuk propagandanya. Dengan foto ini, ISIS memperingatkan dan menyebut para pengungsi yang kabur dari Suriah telah melakukan dosa besar.

Foto Aylan yang berasal dari Suriah, terdampar di pantai Bodrum, Turki memicu keprihatinan dunia. Foto ini bahkan dijadikan simbol krisis imigran global. Aylan tewas tenggelam bersama ibu dan kakaknya, saat hendak menyeberang ke Yunani.

Tidak mau ketinggalan membahas foto ini, ISIS menampilkan foto Aylan dalam majalah onlinenya yang berbahasa Inggris, Dabiq. Foto Aylan ditampilkan di bawah headline 'The danger of Abandoning Darul-Islam' yang merujuk pada Daulah Islamiyah yang diklaim ISIS di Irak dan Suriah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menyedihkan, beberapa warga Suriah dan Libya mempertaruhkan nyawa dan jiwa orang-orang yang menjadi tanggung jawab mereka... mengorbankan banyak orang melalui perjalanan berbahaya ke tanah pasukan salib yang menebar perang," demikian tulis ISIS dalam majalah mereka, seperti dilansir AFP, Kamis (10/9/2015).

Disebutkan juga dalam majalah itu bahwa umat Muslim telah melakukan 'dosa besar yang berbahaya' dengan membawa anak-anak mereka ke negara Barat. "Mereka ada di bawah ancaman pencabulan, sodomi, narkoba dan alkohol," sebut majalah tersebut.

ISIS yang menguasai sebagian wilayah Suriah dan Irak sejak tahun lalu, menerapkan aturan keji pembantaian massal, penyiksaan, perbudakan dan pemerkosaan yang dilegalkan. Kelompok ini mengklaim menegakkan syariat Islam, namun dikecam oleh umat Muslim dunia sebagai sesat.

Ribuan warga Suriah dan juga Irak melarikan diri dari kampung halaman mereka yang dikuasai ISIS, karena merasa tidak aman. Kebanyakan memilih untuk melarikan diri ke negara-negara Eropa. (nvc/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads