Seperti dilansir AFP, Kamis (10/9/2015), sedikitnya 53 pengungsi asal Suriah dan Irak meninggalkan Munich, Jerman pada Selasa (8/9) malam, dengan menumpang bus yang dikirimkan otoritas Prancis. Mereka tiba di kota kecil Champagne-sur-Seine, sebelah tenggara Paris pada Rabu (9/9) waktu setempat.
Mereka merupakan kelompok pertama dari sekitar 1.000 pengungsi yang akan ditampung oleh Prancis. Setelah melalui perjalanan laut dan darat yang mengerikan, para pengungsi ini akhirnya tiba pada perhentian terakhir mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sangat lelah hingga saya tidak bisa berkata-kata. Di Irak, hidup sangat berbahaya jadi kami ingin memulai hidup baru di sini," imbuh pria 28 tahun yang awalnya berniat tinggal di Belgia atau Finlandia, namun akhirnya memilih Prancis setelah mengetahui negara ini menampung lebih banyak pengungsi.
Para pengungsi ini ditemui oleh pihak Palang Merah setempat. "Kami akan mendampingi mereka saat mereka menjalani proses administratif, mengizinkan mereka untuk mendapatkan status pengungsi dalam dua hingga empat bulan," tutur Presiden Palang Merah Prancis, Jean-Jacques Eledjam.
Ditambahkan Eledjam, para pengungsi ini akan ditempatkan di penampungan yang nyaman yang disediakan oleh otoritas setempat. Kelompok pengungsi lainnya diharapkan akan tiba pada Jumat (11/9) besok. Otoritas Prancis sebelumnya menyatakan akan menampung 24 ribu pengungsi dalam waktu dua tahun ke depan. (nvc/ita)











































