"Target kami adalah memulangkan warga negara kami. Biarkan saya memperjelas hal ini -- ini merupakan kasus yang penuh tuntutan," tegas Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg dalam konferensi pers, seperti dilansir Reuters, Kamis (10/9/2015).
PM Solberg tidak menyebut identitas warga Norwegia yang disandera ISIS. Namun dia menyebut pria itu berusia 40 tahun dan sudah beberapa kali ditahan oleh kelompok militan yang berbeda sejak pertama kali diculik di Suriah.
"Pemerintah menangani kasus ini dengan sangat serius," ucapnya.
"Kita tidak bisa dan tidak akan pernah menyerah pada tekanan teroris dan kriminal. Norwegia tidak membayar tebusan. Itu adalah prinsip yang tidak bisa kita tinggalkan saat menghadapi teroris sinis," imbuh PM Solberg.
Menurut Solberg, membayar tebusan justru akan mengingatkan risiko bagi warga Norwegia lain yang juga diculik kelompok militan asing. Dijelaskan Solberg, tim krisis pemerintah tengah memikirkan solusi untuk pembebasan sandera ini.
ISIS mengumumkan penyanderaan dua warga asing, satu dari Norwegia dan satu dari China melalui majalah onlinenya, Dabiq yang disebarkan melalui Twitter. Disebutkan oleh ISIS, kedua pria asing itu ditinggal oleh pemerintahnya dan menyatakan uang tebusan bisa membebaskan keduanya. (nvc/ita)











































