"Pemerintahan tengah mempertimbangkan secara aktif, serangkaian pendekatan untuk berkontribusi pada solusi situasi yang sangat sulit ini," ujar juru bicara Gedung Putih AS, Josh Earnest seperti dilansir AFP, Rabu (9/9/2015).
Langkah-langkah ini, sebut Earnest, termasuk mendanai pembangunan rumah dan membiayai suplai makanan bagi kamp pengungsi di Yordania, Turki dan negara-negara lainnya. Kemudian juga, lanjutnya, menampung lebih banyak pengungsi di wilayah AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah manapun yang akan diambil, membutuhkan dukungan dari Kongres AS yang kini didominasi politikus Republik. Para politikus partai Republik khawatir soal penyusupan militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di antara pengungsi dari Suriah dan Irak.
Sejak konflik pecah di Suriah pada tahun 2011 lalu, Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) merekomendasikan 17 ribu pengungsi Suriah ditampung di AS. Akhir bulan ini, AS dijadwalkan menerima sekitar 1.800 pengungsi Suriah. AS selama ini dikenal memimpin dunia dalam menerima dan memukimkan sejumlah besar pengungsi yang melarikan diri dari perang. Namun di tengah krisis pengungsi Suriah ini, AS seolah terdiam.
Namun juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Peter Boogaard menyebut AS paling banyak berperan dalam membantu krisis Suriah. "Amerika Serikat memberikan US$ 4 miliar (Rp 57 triliun) sebagai bantuan kemanusiaan sejak krisis Suriah dimulai, dan bantuan tambahan lebih dari US$ 1 miliar sepanjang tahun ini," terangnya. (nvc/ita)










































