Seperti dilansir media setempat, Bangkok Post, Rabu (9/9/2015), Pengadilan Kriminal Bangkok Selatan telah merilis surat perintah penangkapan bagi Abudusataer yang diketahui berasal dari Xinjiang, China ini. Di kalangan tersangka bom Bangkok lainnya, Abudusataer memiliki nama alias Ishan.
Menurut sumber yang memahami kasus ini, salah satu tersangka yang ditahan, Yusufu Mieraili (25) yang juga berasal dari Xinjiang, menuturkan kepada polisi bahwa Ishan mengatur serangkaian pertemuan kelompok pengebom dan memberikan tugas kepada masing-masing dari mereka.
Tersangka pengatur bom Bangkok, Abudureheman Abudusataer (Bangkok Post) |
Sumber lainnya menyebut, Ishan telah meninggalkan Thailand pada 16 Agustus, atau sehari sebelum ledakan mengguncang kompleks Kuil Erawan, melalui Bandara Suvarnabhumi. Namun tidak diketahui ke mana Ishan melarikan diri. Polisi masih menyelidikinya lebih lanjut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam interogasi, menurut sumber kepolisian setempat, Mieraili mengaku pada hari pengeboman, 17 Agustus lalu, dirinya mendatangi apartemen di Nong Chok untuk mengambil sebuah tas ransel warna hitam dan kemudian naik taksi ke stasiun Hua Lamphong. Di stasiun itu, Mieraili menyerahkan ransel hitam kepada tersangka utama yang diyakini sebagai pria berkaus kuning dalam rekaman CCTV.
Namun, Mieraili menyebut saat itu merupakan pertama kalinya dia bertemu dengan pria berkaus kuning. Dia juga mengaku tidak tahu-menahu jika ransel yang diantarkannya itu berisi bom.
Juru bicara Kepolisian Nasional Thailand, Prawut Thavornsiri menegaskan, Mieraili menjadi bagian penting dalam penyelidikan bom Bangkok. Oleh otoritas Thailand, Mieraili dijerat dakwaan kepemilikan bahan peledak ilegal dan dakwaan tambahan terlibat dalam pengeboman. (nvc/ita)











































Tersangka pengatur bom Bangkok, Abudureheman Abudusataer (Bangkok Post)