PM Israel Tak Bersedia Tampung Pengungsi Suriah

PM Israel Tak Bersedia Tampung Pengungsi Suriah

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 07 Sep 2015 13:02 WIB
PM Israel Tak Bersedia Tampung Pengungsi Suriah
Benjamin Netanyahu (REUTERS/Baz Ratner)
Tel Aviv - Tekanan dari krisis imigran di Eropa juga melanda Israel, yang diminta ikut membantu. Namun Perdana Menteri Benjamin Netanyahu langsung menolak seruan untuk menampung pengungsi Suriah.

Pemimpin oposisi Israel, Isaac Herzog yang menjabat Ketua Partai Serikat Zionis menyerukan kepada PM Netanyahu untuk turut menampung pengungsi konflik Suriah. Israel sendiri menganggap Suriah yang merupakan negara tetangganya, sebagai musuh.

Meskipun belum ada seruan internasional kepada Israel untuk membuka perbatasannya terhadap pengungsi Suriah, Herzog menyebut PM Netanyahu memiliki kewajiban moral untuk menampung para pengungsi kemanusiaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perdana Menteri rakyat Yahudi tidak seharusnya menutup hatinya dan juga menutup pintu ketika orang-orang melarikan diri untuk memperjuangkan hidup mereka, dengan bayi di tangan, dari penindas," sebut Herzog seperti dilansir Reuters, Senin (7/9/2015),

Dalam pernyataannya di rapat kabinet, PM Netanyahu menyatakan Israel bukannya acuh tak acuh terhadap tragedi kemanusiaan. Dia juga menekankan, bahwa rumah sakit di Israel juga banyak merawat korban dari konflik Suriah.

"Namun, Israel merupakan negara yang sangat kecil. Israel tidak memiliki kedalaman geografis atau kedalaman demografi," sebut PM Netanyahu, sembari menyatakan bahwa menampung pengungsi Arab akan mengganggu keseimbangan negara Yahudi ini, yang seperlima dari total 8,3 juta penduduknya merupakan warga keturunan Arab.

Dalam rapat kabinet, PM Netanyahu juga menyatakan bahwa Israel harus lebih mengamankan perbatasannya terhadap imigran asal Afrika dan juga kelompok militan asing. Dia mengumumkan dimulainya pembangunan pagar perbatasan yang baru sepanjang 30 kilometer di perbatasan dengan Yordania, yang telah menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada tahun 1994. (nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads