Hingga kini, belum ada tanda-tanda dari otoritas AS untuk menambah kuota penerimaan pengungsi dan imigran ke wilayahnya. Pemimpin Komisi Penyelamatan Internasional (IRC) yang juga mantan Menteri Luar Negeri Inggris, David Miliband menyerukan kepada AS untuk ikut mengambil tindakan.
"Tunjukkan bentuk kepemimpinan yang pernah ditunjukkan Amerika terhadap isu semacam ini (di masa lalu). Amerika Serikat selalu menjadi pemimpin dalam penyelesaian isu pengungsi, tapi (menerima) 1.500 orang dalam 4 tahun terakhir, merupakan kontribusi yang terlalu kecil untuk menanggulangi masalah kemanusiaan ini," cetus David Miliband dalam acara TV ABC berjudul "This Week with George Stephanopoulos", seperti dilansir Reuters, Senin (7/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada proses pemeriksaan yang signifikan di sini, bagi orang-orang dari Suriah, yang kami harus ikuti," sebut Kirby. Β
Kirby menambahkan, pemerintahan Obama selalu berkomunikasi dengan sekutunya di Eropa dan turut membantu mencari solusi bagi krisis imigran. Namun AS juga berusaha mencegah anggota militan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan juga Al-Qaeda menyusup masuk ke wilayahnya sebagai pengungsi.
Seperti dikutip New York Times, mantan Ketua Partai Liberal Kanada, Michael Ignatieff yang kini seorang profesor di Harvard Kennedy School menyatakan, AS, Kanada dan negara-negara Timur Tengah salah besar jika menganggap krisis imigran sebagai masalah negara Eropa. AS dan sekutunya, menurut Ignatieff, bertanggung jawab atas pengungsi Suriah karena mereka yang mempersenjatai pemberontak Suriah dan bertempur melawan ISIS di Suriah.
"Menyalahkan Eropa merupakan sebuah alibi dan dalih-dalih lainnya -- seperti pengungsi tidak memiliki dokumen yang benar -- sungguh memuakkan," sebut Ignatieff, sembari menyerukan agar AS dan Kanada menampung sedikitnya 25 ribu pengungsi Suriah. (nvc/ita)











































