Seperti dilansir AFP, Sabtu (5/9/2015), Reem Sahwil yang berusia 14 tahun ini tak bisa menahan emosi ketika tampil bersama Kanselir Merkel dalam acara debat di televisi setempat, bulan lalu. Dalam bahasa Jerman yang fasih, Reem menceritakan bagaimana dirinya dan keluarga tiba di kota Rostock dari kamp pengungsi di Libanon, sekitar 4 tahun lalu.
Reem merasa sedih dan putus asa karena kini dirinya dan keluarga terancam deportasi. Merkel menanggapi keluh kesah Reem dengan menyatakan simpati. Namun Merkel tetap mempertahankan kebijakan suaka pemerintahannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selang beberapa minggu setelah insiden itu, otoritas Rostock akhirnya memberikan kabar baik bagi Reem dan keluarganya. "Mereka mendapat izin tinggal, untuk pertama kalinya, dengan alasan kemanusiaan," demikian pernyataan kantor Balai Kota Rostock.
"Izin tinggal ini berlaku hingga Maret 2016," imbuh pernyataan tersebut.
Menanggapi hal ini, Wakil Walikota Rostock, Chris Mueller menyatakan: "Reem merupakan contoh sukses integrasi di kota kita."
Kasus Reem ini hanyalah salah satu dari banyaknya kasus yang melibatkan imigran di wilayah Eropa. Terlebih Eropa kini tengah dilanda krisis imigran besar-besaran. Baru-baru ini, otoritas Jerman menyatakan bersedia menerima lebih banyak pengungsi dan imigran ke wilayahnya.
(nvc/ndr)










































