Pemanggilan ini setelah sebelumnya pemerintah Malaysia mengancam penyelenggara bisa dijerat dakwaan pidana dengan tetap menggelar unjuk rasa ini. Disampaikan pemimpin Bersih 2.0 penyelenggara unjuk rasa, Maria Chin Abdullah, bahwa beberapa pemimpin unjuk rasa dipanggil polisi untuk dimintai keterangan, pekan lalu.
"Ini jelas membuang-buang waktu. Mereka berusaha mengintimidasi kami, tapi mereka tidak akan berhasil," ucap Maria Chin Abdullah kepada AFP, Selasa (1/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Unjuk rasa ini mendapat dukungan kuat dari mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad yang belakangan ini sering menyerukan pengunduran diri PM Najib, yang terseret skandal korupsi perusahaan investasi milik negara, 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Pihak Bersih 2.0 menyebut ada 200 ribu orang yang ikut turun ke jalanan dalam aksi ini. Namun kepolisian Malaysia menyebut jumlah demonstran yang ikut serta hanya sekitar 29 ribu orang.
Unjuk rasa ini tetap berhasil digelar meskipun ada ancaman dari otoritas Malaysia terhadap penyelenggara. Wakil PM Malaysia Zahid Hamidi yang juga menjabat Menteri Keamanan Dalam Negeri memperingatkan bahwa penyelenggara unjuk rasa ini bisa dijerat pidana penghasutan dan lain sebagainya.
PM Najib mengecam aksi unjuk rasa ini dan menyebutnya sebagai aksi orang-orang berpikiran sempit. PM Najib tetap menolak mundur dari jabatannya. (nvc/nrl)










































