Gara-gara itu, Nanae mulai sering membolos dan bahkan sempat terpikir untuk mengakhiri hidupnya. Namun kasus seperti Nanae bukan hal asing di Jepang.
Jepang merupakan salah satu negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Di negeri Sakura itu, bunuh diri merupakan penyebab kematian terbanyak di kalangan mereka yang berumur 15-39 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang menarik, ternyata lebih banyak pelajar Jepang yang bunuh diri pada tanggal 1 September tiap tahunnya, dibandingkan tanggal lainnya. Demikian menurut data yang dikumpulkan kantor pencegahan bunuh diri Jepang selama kurun waktu lebih dari 40 tahun.
Tingginya angka bunuh diri pada tanggal 1 September itu terkait dengan awal dimulainya masa belajar setelah liburan musim panas berakhir.
"Libur panjang dari sekolah memungkinkan Anda tinggal di rumah, jadi itu surga bagi mereka yang diganggu," tutur Nanae seperti dilansir CNN, Selasa (1/9/2015). "Ketika musim panas berakhir, Anda harus kembali sekolah. Dan begitu Anda mulai khawatir akan diganggu, bunuh diri pun menjadi hal yang mungkin," imbuhnya.
Ketika bullying makin parah, Nanae terpikir untuk bunuh diri, namun dia tidak jadi melakukannya. "Saya pikir perbuatan seperti mengiris pergelangan tangan saya akan menimbulkan masalah bagi orangtua saya, dan melakukan bunuh diri tak akan menyelesaikan apapun," tutur Nanae.
Pada akhirnya, Nanae memutuskan untuk berhenti sekolah dan tinggal di rumah selama hampir setahun. Ibu Nanae, Mina Munemasa, mendukung keputusan putrinya.
Kini, Nanae sudah kembali melanjutkan studinya dan dia juga menjadi vokalis di kelompok band pop bernama Nanakato bersama kakak laki-lakinya. Nanae juga mencoba membantu mereka yang mengalami gangguan di sekolah dengan aktif menulis blog tentang apa yang telah dialaminya.
"Akan menakjubkan jika blog itu membantu setidaknya satu orang untuk berhenti berpikir tentang bunuh diri," tandasnya. (ita/ita)











































