Foto Pria Penjual Pena dan Putrinya Ini Membuat Banyak Hati Tergugah

Foto Pria Penjual Pena dan Putrinya Ini Membuat Banyak Hati Tergugah

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 29 Agu 2015 17:32 WIB
Foto Pria Penjual Pena dan Putrinya Ini Membuat Banyak Hati Tergugah
Foto: CNN
Washington, - Gissur Simonarson, aktivis dari Oslo, Norwegia, memposting foto seorang ayah dan putrinya di jalanan Beirut, Libanon. Foto pria penjual pena tersebut telah menggugah hati banyak dermawan yang menyumbangkan uang untuk pengungsi Suriah itu.

"Itu foto yang sangat emosional," ujar Simonarson kepada CNN, Sabtu (29/8/2015). "Anda melihat raut wajahnya dan cara dia memegang pena-pena itu, seakan pena itu segalanya yang dia punya di dunia," tutur aktivis tersebut.

Foto tersebut memperlihatkan seorang pria penjual pulpen sedang menawarkan dagangannya sembari menggendong putrinya yang tertidur. Saat foto tersebut diposting pekan lalu, hanya dalam beberapa jam banyak yang menyerukan untuk membantu penjual pulpen dalam foto tersebut.

Namun Simonarson tidak tahu siapa pria itu ataupun siapa yang mengambil foto tersebut. Namun kemudian lewat media sosial, khususnya Twitter, muncul gerakan untuk menemukan penjual pulpen tersebut dengan tagar #BuyPens.

Setelah dua hari pencarian dan dibantu banyak orang, Simonarson menemukan pria bernama Abdul itu. "Akhirnya menemukan dia," kicau Simonarson di Twitter. "Benar-benar kerja keras, namun ini setimpal! Sekarang mari kita bantu mereka!" demikian postingan Simonarson.

Abdul merupakan ayah tunggal yang kabur dari rumahnya di Yarmouk, salah satu tempat paling parah dilanda konflik di Suriah. Pria Suriah itu memiliki dua anak, salah satunya adalah anak perempuan berumur 4 tahun yang terlihat dalam foto yang menggugah banyak pengguna media sosial itu. Β 

Simonarson kemudian menggalang dana untuk mengumpulkan US$ 5.000 untuk Abdul dan dua putrinya. Hanya dalam waktu 30 menit, kampanye di Twitter dengan tagar #BuyPens itu mencapai tujuan.

"Saya pikir kampanye ini membuktikan bahwa kemanusiaan belum hilang," demikian postingan Simonarson di Twitter. Dalam waktu 24 jam, hampir 3 ribu orang telah memberikan sumbangan dengan nilai total mencapai US$ 80 ribu.

Abdul menangis dan tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih ketika diberitahu mengenai uang tersebut. Pria berumur 35 tahun itu mengatakan, dengan uang itu dia akan bisa menyekolahkan kedua anaknya. Dia juga ingin membantu para pengungsi lainnya dengan uang tersebut.

Sebelum perang berkecamuk, Abdul adalah pekerja pabrik cokelat di Yarmouk. Dia kini menjadi satu dari sekitar 4 juta pengungsi Suriah yang melanjutkan hidup di Turki, Yordania, dan Libanon. Ribuan warga Suriah lainnya berusaha mencapai Eropa dengan bertaruh nyawa. (ita/ita)


Berita Terkait