Namun Kim Jong Un menyebut bahwa kekuatan dari militer mereka yang mampu mewujudkan kesepakatan tersebut. Pada Selasa (25/8) lalu, Korut dan Korsel sepakat untuk mengakhiri ketegangan militer yang sempat diwarnai aksi saling tembak di perbatasan.
Kedua negara sepakat untuk membuka kembali jalur dialog untuk membahas serangkaian isu dengan tujuan meningkatkan hubungan kedua negara. Kesepakatan ini memicu harapan bagi dimulainya kembali perundingan damai kedua negara yang sempat terhenti tahun 2010 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terima kasih luar biasa kepada kekuatan militer dengan sistem pertahanan diri yang disertai kemampuan perlindungan nuklir sebagai poros dan jajaran tak tertandingi yang bersatu di sekitar partai (Partai Pekerja Korea)," imbuhnya.
Pernyataan ini disampaikan Kim Jong Un dalam rapat Komisi Militer Pusat Partai Pekerja Korea. Forum tersebut merupakan forum yang sama yang menjadi tempat Kim Jong Un menyerukan aksi militer terhadap Korsel, pekan lalu.
Pada Jumat (28/8), Kementerian Unifikasi Korsel menuturkan, Palang Merah Korsel telah mengajukan permohonan dialog untuk membahas rencana reuni keluarga Korut-Korsel yang terpisah sejak Perang Korea tahun 1950-1953 silam. Dialog ini akan digelar di Desa Panmunjom dekat perbatasan pada 7 September mendatang. (nvc/ita)











































