Para demonstran menggelar long march dari ibukota Guatemala City ke sejumlah wilayah lainnya. Kawasan bisnis mulai dari restoran hingga kafe tutup sebagai bentuk dukungan bagi aksi protes tersebut. Demonstran membawa spanduk bertuliskan 'Guatemala tidak punya presiden'.
"Tidak bisa begitu saja dia (Presiden Perez) memalingkan diri dan mengabaikan fakta bahwa rakyat sudah tidak menginginkannya kembali," teriak salah satu demonstran, Felipe Flores (25) seperti dilansir Reuters, Jumat (28/8/2015).
Presiden Perez (64) yang merupakan purnawirawan jenderal, menegaskan dirinya tidak akan mundur dari jabatannya dan berjanji akan mematuhi proses hukum yang menjeratnya. Skandal korupsi ini mencuat di Guatemala menjelang pemilu presiden pada 6 September mendatang.
Pekan ini, Mahkamah Agung Guatemala menerima permohonan Jaksa Agung Thelma Aldana untuk memakzulkan Presiden Perez. Namun langkah ini masih harus melalui Kongres Guatemala agar bisa sukses. Kongres telah menunjuk lima panel kuat untuk memutuskan apakah ada cukup bukti untuk memakzulkan Presiden Perez.
Presiden Perez sebelumnya berhasil lolos dari upaya pemakzulan oleh Kongres, karena diperlukan mayoritas dua pertiga suara untuk bisa memakzulkannya. Kini, tekanan agar Presiden Perez mundur semakin memuncak. Jika Presiden Perez memenuhi permintaan mundur, dia bisa bernasib sama dengan mantan Wakil Presiden Roxana Baldetti, yang pekan lalu ditangkap karena diyakini terlibat dalam kasus korupsi bea cukai yang juga menyeret Presiden Perez.
Dalam wawancara dengan radio Guatemala, Presiden Perez bersikeras tidak akan mundur dan menyebut keputusan untuk mundur adalah pilihan. "Ini merupakan keputusan pribadi, saya telah meminta kebijaksanaan kepada Tuhan, agar saya bisa mendapat pencerahan dan bisa mengambil keputusan terbaik untuk rakyat Guatemala," ucap Presiden Perez. (nvc/ita)











































