Disampaikan sumber AS yang memahami operasi militer ini, seperti dilansir Reuters, Kamis (27/8/2015), Departemen Pertahanan AS terlibat dalam serangan drone yang menewaskan Junaid Hussain, peretas asal Inggris. Hussain pernah tinggal di Birmingham, Inggris sebelum bergabung ISIS.
Laporan CSO Online menyebut serangan drone ini terjadi di dekat Raqqa, Suriah pada Selasa (25/8) waktu setempat. Hussain yang berusia 21 tahun ini, pindah ke Suriah sejak 2 tahun lalu dan kemudian membantu ISIS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal tahun ini, sumber pemerintahan AS dan Eropa menuturkan kepada Reuters, bahwa mereka meyakini Hussain merupakan pemimpin CyberCaliphate, kelompok peretas yang menyerang akun Twitter Pentagon pada Januari lalu. Namun, pakar keamanan dunia maya menyebut Hussain dan peretas lainnya yang bekerja untuk ISIS, sebenarnya tidak memiliki cukup kemampuan untuk melancarkan serangan serius.
"Dia bukanlah ancaman serius. Dia lebih seperti peretas pembuat onar. Keterlibatannya dalam perekrutan, komunikasi, dukungan lainnya yang membuatnya menjadi target," sebut Wakil Presiden CrowdStrike, Adam Meyer. CrowdStrike merupakan perusahaan keamanan dunia maya.
Pada tahun 2012, Hussain divonis 6 bulan penjara karena mencuri daftar alamat milik mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair dari sebuah akun yang dikelola penasihat Blair saat itu. Hussain kemudian menjadi target perburuan otoritas AS. (nvc/ita)











































