Hillary menyatakan, kekerasan senjata api terus menguntit Amerika dan ini harus dihentikan.
"Kita harus melakukan sesuatu tentang kekerasan senjata di Amerika," kata istri mantan Presiden Bill Clinton itu dalam konferensi pers di Moneta, Virginia seperti dilansir Telegraph, Kamis (27/8/2015).
Mantan ibu negara AS itu pun menyinggung tentang perlunya perubahan undang-undang mengenai pengetatan kepemilikan senjata api.
"Ini isu yang sangat politis, isu yang pelik di Amerika, namun saya yakin kita cukup pintar, kita cukup penuh kasih untuk menemukan bagaimana menyeimbangkan hak-hak sesuai Amandemen Kedua dengan langkah-langkah preventif dan pengendalian sehingga apapun yang memotivasi pembunuh ini, yang akhirnya menghabisi nyawanya sendirinya, kita tak akan melihat lagi kematian-kematian seperti ini," ujar mantan Ibu Negara AS itu.
Sebelum konferensi pers tersebut, lewat akun Twitternya, Hillary juga mengungkapkan perasaannya atas penembakan jurnalis TV tersebut.
"Sangat sedih dan marah. Kita harus menghentikan kekerasan senjata, dan kita tak bisa menunggu lebih lama lagi. Mendoakan untuk keluarga korban-korban di Virginia," demikian postingan Hillary.
Kepolisian negara bagian Virginia masih mendalami penembakan yang dilakukan Vester Flanagan alias Bryce Williams (41). Diduga sakit hati karena mengalami diskriminasi ras, membuat itu 'hilang akal' dan menembak dua jurnalis yang sedang siaran langsung.
Flanagan diketahui pernah bekerja di stasiun televisi WDBJ7 namun dipecat sekitar 2 tahun yang lalu. Setelah tidak lagi bekerja di sana, pihak kepolisian meyakini Flanagan masih tinggal di wilayah tersebut. (ita/ita)











































