"Situasinya sangat serius," kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Libya Mohamed al-Dayri seperti dikutip kantor berita AFP, Rabu (26/8/2015).
"Orang-orang sekarat, disalib, diambil dari makam mereka, dibakar hidup-hidup. Bangsa Libya tak mengerti mengapa komunitas internasional tak tergerak akan bahaya ini," cetus Menlu untuk pemerintahan Libya yang diakui internasional itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Dayri, kelompok ISIS kini ada di kota-kota Derna, Benghazi, Sirte dan Sabratha.
"Mereka memang belum merebut ladang-ladang minyak, namun kami takut mereka akan datang untuk menguasai beberapa sumber minyak," tutur Dayri.
Untuk menghadapi kelompok ISIS ini, Dayri meminta PBB untuk mencabut embargo senjata yang diterapkan pada tahun 2011. "Kami tidak bicara soal perlengkapan militer yang canggih, namun kami perlu minimal untuk memerangi terorisme secara memadai," katanya.
Dayri juga mengharapkan komunitas internasional segera mengintervensi untuk menghadapi ISIS. "Namun bukan pasukan di darat. Kami mengharapkan dukungan udara bagi pasukan bersenjata Libya di lapangan," tandasnya. (ita/ita)











































