Seperti dikutip dari Reuters, Selasa (25/8/2015), kesepakatan lain yaitu Korea Selatan juga menyatakan menghentikan propaganda anti Pyongyang. Pembicaraan kesepakatan ini juga mengarahkan kedua pihak mengadakan upaya kelanjutan demi membaiknya hubungan. Kemudian, kedua belah pihak sepakatย membuat reuni khsusus bagi keluarga yang terpisah akibat perang Korea. Reuni ini direncanakan pada liburan musim gugur mendatang.
Sebelum terjadi kesepakatan, berikut ringkasan kronologi rangkaian peristiwa penting yang sempat membuat Semenanjung Korea memanas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ledakan terjadi di kawasan demiliterisasi yang memisahkan Korea Utara dan Korea Selatan. Dua tentara Korsel mengalami luka-luka akibat ledakan ini. Disampaikan otoritas Korsel, seperti dilansir Reuters, ledakan ini dipicu oleh ranjau yang ditanam di daerah yang biasa disebut Zona Demiliterisasi (DMZ) tersebut.
10 Agustus 2015
Pemerintah Korea Selatan menuduh Korea Utara (Korut) sebagai pihak yang sengaja memasang ranjau darat. Kementerian Pertahanan Korsel menyatakan ledakan ranjau darat adalah strategi Pyongyang yang memang sengaja untuk membunuh.
14 Agustus 2015
Pihak Korea Utara membantah tudingan sebagai pihak dibalik ledakan ranjau yang melukai dua tentara Korea Selatan. Tudingan ini dinilai pihak Pyongyang tak masuk akal.
20 Agustus 2015
Pihak Korea Selatan menyatakan siap menghadapi upaya provokasi dari Korea Utara. Korsel pun enggan menanggapi ultimatum Korut yang meminta agar Seoul menghentikan propaganda anti-Korut di perbatasan. Kedua negara pun memanas karena ada aksi saling tembak artileri.
21 Agustus 2015
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un menyampaikan siap perang dengan mengintruksikan pasukan di garis depan pertahanan. Kim mendeklarasikan siap menjalankan semi-perang. Pasukan Korea Utara diingatkan agar siaga menjalani setiap operasi militer.
22 Agustus 2015
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki Moon meminta Korea Utara dan Korea Selatan bisa menahan diri. Ban ingin kedua negara tidak melakukan tindakan yang semakin meningkatkan ketegangan di Semenanjung Korea. Imbauan Ban ini karena setelah otoritas Korsel mengabaikan ultimatum Korut untuk menghentikan siaran propaganda anti-Korut. Sebagai pejabat yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri Korsel,ย Ban merasa khawatir dengan perkembangan di perbatasan kedua negara.
22 Agustus 2015
Otoritas kedua negara sepakat menggelar dialog maraton di tengah ketegangan yang semakin menimuncak. Dialog pertemuan yang digelar di Desa Pamnunjom, dekat perbatasan kedua negara ini dihadiri pejabat-pejabat tinggi kedua negara dan diharapkan akan tercapai kesepakatan.
24 Agustus 2015
Dialog antara Korea Utara dengan Korea Selatan terus digelar secara maraton untuk meredakan ketegangan dua negara. Presiden Korsel Park Geun-hye meminta agar Korut meminta maaf atas insiden ledakan ranjau di Zona Demiliterisasi (DMZ). Korut saat itu masih belum bersedia menyampaikan permohonan maaf.
25 Agustus
ย Korea Selatan dan Korea Utara akhirnya mencapai kesepakatan untuk meredakan ketegangan kedua dalam beberapa pekan terakhir. Memanasnya hubungan kedua negara sempat membuat ketegangan militer di Semenanjung Korea. (hty/fdn)











































