Kurang Alat Modern, Thailand Akui Penyelidikan Bom Bangkok Lambat

Kurang Alat Modern, Thailand Akui Penyelidikan Bom Bangkok Lambat

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 24 Agu 2015 10:15 WIB
Kurang Alat Modern, Thailand Akui Penyelidikan Bom Bangkok Lambat
Foto: REUTERS/Chaiwat Subprasom
Bangkok - Otoritas Thailand meminta publik bersabar menanti perkembangan penyelidikan bom Bangkok. Kepolisian Thailand mengakui kurangnya alat-alat modern dalam perburuan tersangka utama.

Selang enam hari setelah ledakan bom mengguncang kompleks Kuil Erawan, dalang di balik insiden brutal itu masih belum jelas. Perburuan tersangka sejauh ini difokuskan pada pria muda berkaos kuning yang terekam CCTV meninggalkan ransel di bawah bangku kompleks Kuil Erawan, beberapa menit sebelum ledakan terjadi. Demikian seperti dilansir AFP dan Reuters, Senin (24/8/2015).

Sketsa wajah tersangka utama telah disebar ke publik. Dalam surat perintah penangkapan disebutkan tersangka merupakan warga negara asing, namun kepolisian setempat menyebut bisa saja tersangka seorang warga Thailand yang menyamar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lambatnya penyelidikan bukan karena kurangnya kemampuan polisi. Tapi karena kami tidak memiliki perlengkapan modern yang mendukung kinerja," tutur Kepala Kepolisian Nasional Thailand, Somyot Pumpanmuang.

Somyot tidak menyebut lebih rinci yang dimaksud perlengkapan modern tersebut. Namun informasi menyebut perlengkapan modern yang dimaksud ialah teknologi pengenalan wajah atau program untuk memperjelas rekaman kamera keamanan.

"Kami menghadapi kesulitan dengan teknologi dan data. Kami harus menunggu kerja sama dari luar negeri, untuk datang dan membantu dengan perlengkapan ini," imbuh Somyot.

Secara terpisah, juru bicara Kepolisian Nasional Thailand, Prawut Thavornsiri menyebut adanya perkembangan dalam penyelidikan. Bahkan polisi, lanjut Prawut, mulai memikirkan kemungkinan bahwa tersangka utama telah meninggalkan Thailand.

"Kami tidak bisa memberikan rincian perkembangan... biarkan polisi bekerja. Kami bekerja berpacu dengan waktu... tapi kasus semacam ini tidaklah mudah," sebutnya. (nvc/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini