Bom Bangkok Jadi Ujian Kepala Kepolisian Thailand yang Baru

Bom Bangkok Jadi Ujian Kepala Kepolisian Thailand yang Baru

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 21 Agu 2015 19:19 WIB
Bom Bangkok Jadi Ujian Kepala Kepolisian Thailand yang Baru
Chakthip Chaijinda (kiri) duduk bersama Somyot Pumpunmuang (kanan) (REUTERS/Athit Perawongmetha)
Bangkok - Penyelidikan ledakan bom di dekat Kuil Erawan, Bangkok menjadi ujian bagi Kepala Kepolisian Nasional Thailand yang baru. Chakthip Chaijinda yang dikenal dekat dengan pejabat junta militer Thailand ini, sempat menjalani pelatihan FBI di Amerika Serikat.

Chakthip Chaijinda terpilih sebagai Kepala Kepolisian Nasional Thailand yang baru pada 14 Agustus lalu, atau selang 3 hari sebelum ledakan mengguncang kompleks Kuil Erawan, Bangkok. Pejabat Kepala Kepolisian saat ini, Somyot Pumpunmuang akan pensiun pada 30 September mendatang.

Chakthip yang sebelumnya menjabat Wakil Kepala Kepolisian Nasional Thailand ini telah memimpin penyelidikan atas ledakan yang menewaskan 21 orang termasuk belasan warga negara asing tersebut. Demikian seperti dilansir Reuters, Jumat (21/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun selang 4 hari setelah ledakan, masih belum jelas siapa pelakunya dan apa motifnya. Tersangka utama ialah seorang pria muda yang tak disebut identitasnya, yang terekam CCTV meninggalkan sebuah ransel di lokasi kejadian dan kemudian kabur.

Ditambah lagi, pejabat kepolisian dan militer Thailand memberikan keterangan yang kontradiksi dan membingungkan publik. Mulai dari ciri-ciri tersangka utama hingga jumlah komplotan dan keterlibatan jaringan terorisme internasional. Pernyataan yang ada selalu berubah-ubah.

Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi Chakthip yang diharapkan mampu menemukan dan mengadili dalang utama di balik ledakan tersebut.

Sebagai Wakil Kepala Kepolisian Nasional Thailand, sosok Chakthip cukup familier bagi publik karena sering menangani kasus kriminal terkait sektor pariwisata di Thailand. Salah satunya ialah kasus pembunuhan dua turis Inggris di Pulau Koh Tao pada September 2014 lalu. Dalam kasus itu, ada dua pekerja migran asal Myanmar yang duduk di kursi terdakwa dan proses persidangan masih berlanjut.

Chakthip yang berusia 55 tahun ini menolak permintaan wawancara Reuters, dengan alasan dirinya sangat sibuk. Namun seorang diplomat negara Barat di Bangkok menyebut Chakthip sebagai sosok yang tegas dan terus terang, serta mampu menyelesaikan situasi yang rumit.

"Dia dikenal sebagai penyidik yang teratur dan dihormati," sebut diplomat yang enggan disebut namanya ini.

Chakthip diketahui pernah menerima pelatihan di International Law Enforcement Aceademy di Bangkok, yang didanai AS pada tahun 2003. Dia juga mengikuti pelatihan di FBI Academy yang ada di Quantico, Virginia, AS. (nvc/nwk)


Berita Terkait