Β
Dilansir detikcom dari Smithsonian Magazine, milik Smithsonian Institution, lembaga milik pemerintah AS yang khusus mengelola museum dan pusat penelitian sains, pernah menerbitkan artikel berjudul "The CIA's Most Highly-Trained Spies Weren't Even Human" pada Oktober 2013 lalu.
Β
Sebenarnya, penggunaan hewan sebagai intelijen militer sudah dimulai pada zaman Yunani kuno. Namun, rupanya, percobaan ilmiah tentang hewan sebagai mata-mata mulai dilakukan pada tahun 1960-an, kala era perang dingin. Ada orang-orang yang terlibat dalam pelatihan hewan, seperti membuat unggas menari atau sapi bermain bingo, yang bekerja di bawah pemerintah AS untuk pertahanan dan intelijen.
Β
Kisah era perang dingin yang dilansir sebagai contoh, misalnya, adalah burung gagak yang hinggap di jendela apartemen. Namun, orang-orang tidak sadar bahwa burung gagak itu membawa pemancar elektronik yang cukup kuat untuk merekam percakapan orang-orang di dalam apartemen. Orang-orang tidak sadar dan tidak akan mengira bahwa burung gagak itu bukan sekadar hinggap, melainkan burung terlatih dari laboratorium teknis CIA di Langley, Virginia.
Β
Simak pengakukan Bob Bailey, direktur pertama proyek pionir AL AS dalam program pelatihan lumba-lumba. Bailey yang saat diwawancara 2 tahun lalu berusia 76 tahun, selama kariernya di AL AS melatih semua hewan, dari mengajari lumba-lumba mendeteksi kapal selam hingga menemukan bahwa burung juga punya 'otak', yang memungkinkan burung itu bermain tic-tac-toe alias bermain centang-silang di papan kotak-kotak, melawan...seekor ayam!
Β
"Kami tidak pernah menemukan hewan yang tidak bisa dilatih," tegas Bailey. Β
Β
"Tidak pernah. Tidak pernah," tegas Bailey mengulang kata 'tidak pernah' sampai tiga kali. Β
Β
Salah satu hewan yang dilatih Bailey, kini tersimpan menjadi koleksi museum Sejarah Amerika milik Smithsonian (Smithsonian National Museum of American History). Bailey menceritakan hewan sekecil apapun bisa dilatih. Dia merujuk pada kisah Susan Garret, pelatih jawara dunia dalam melatih ketangkasan anjing. Β
Β
Pun pengalaman Bailey saat mencoba menstimulasi laba-laba di kamar mandi dengan sinar laser merah. Saat itu, dalam kamar mandinya dia melihat laba-laba. Dia menyalakan sinar laser dan meniup lembut laba-laba itu.Β
Ilustrasi |
Β
"Laba-laba tidak suka angin karena bisa membuat sarangnya rusak. Laba-laba itu kemudian mengkerut dan menarik dirinya dalam ukuran terkecil," jelas dia. Β
Β
Bailey menyalakan sinar laser kemudian meniup, dengan jeda berulang-ulang hari itu. "Anda sudah melatih laba-laba di kamar mandi Anda," tutur Bailey.
Β
Teori psikologi yang terkenal dalam melatih hewan ini, yang paling terkenal adalah "Pavlov Effect". Teori ini dikembangkan psikolog Rusia, Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936). Pavlov mengadakan percobaan pada anjing. Pavlov mengukur jumlah air liur anjing dengan stimulus bunyi bel dan semangkuk makanan. Β
Β
Percobaan itu, menekan bel dulu kemudian mengeluarkan semangkuk makanan. Begitu berulang-ulang. Pertama-tama, anjing mengeluarkan air liur setelah melihat makanan. Lama-lama, anjing terbiasa menangkap bahwa makanan akan dikeluarkan setelah bel berbunyi.Β
Ilustrasi: Adhi Wicaksono |
Β
Kemudian, Pavlov mengubah pola bahwa setelah bel dibunyikan, makanan tak dikeluarkan. Hasilnya, anjing yang tadinya mengeluarkan air liur setelah melihat makanan, kemudian kini mengeluarkan air liur setelah mendengar bunyi bel, karena berharap makanan akan keluar setelah itu. Β
Percobaan Pavlov ini dikenal sebagai uji empiris "PengkondisianΒ Klasik" (Classical conditioning). Β
Β
Ada pula psikolog AS dari Universitas Harvard, BF Skinner, yang pada masa Perang Dunia II menerima pendanaan untuk meneliti perangkat rudal berbasis merpati pos. Burung merpati pos itu ditempatkan di wadah kerucut, dan patukannya bisa mengaktifkan mesin kemudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilustrasi: Getty Images |
Β
Kembali pada proyek pelatihan lumba-lumba yang ditangani Bailey, dia mengatakan bahwa "Saya bisa melihat sangat cepat bahwa hewan-hewan ini sangat berguna. Dan pula, kami yang terlibat sering bercanda 'Ingin berbicara dengan lumba-lumba'," ujarnya.
Β
Disebutkan pula dokumen CIA tahun 1976 yang sudah menjadi tidak rahasia lagi, disebutkan tentang catatan lumba-lumba yang dilatih AL AS, dan bahwa Uni Soviet saat itu "juga menilai dan mereplikasi sistem AS dan mungkin mengembangkan tindakan untuk melawan sistem AS itu". Β
Β
Disebutkan bahwa AL AS hingga kini masih mengembangkan Marine Mammal Program alias program mamalia laut, di mana laman situsnya menyebutkan "is an accredited member of the Alliance of Marine Mammal Parks and Aquariums, an international organization committed to the care and conservation of marine mammals". (anggota terakreditasi dari Aliansi Taman dan Akuarium Mamalia Laut, organisasi internasional yang berkomitmen pada kepedulian dan konservasi mamalia laut-red).
Β
Nah, bagaimana menurut Anda, bisakah lumba-lumba dan hewan lainnya menjadi mata-mata?
Halaman 2 dari 1












































Ilustrasi
Ilustrasi: Adhi Wicaksono
Ilustrasi: Getty Images