Mahathir Serukan Mosi Tak Percaya terhadap PM Najib

Mahathir Serukan Mosi Tak Percaya terhadap PM Najib

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 21 Agu 2015 11:12 WIB
Mahathir Serukan Mosi Tak Percaya terhadap PM Najib
Mahathir Mohamad (Rachman Haryanto/detikcom)
Kuala Lumpur - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menyerukan mosi tidak percaya terhadap Perdana Menteri Najib Razak. Mahathir menyebut cara ini legal untuk melengserkan PM Najib yang terseret skandal korupsi 1MDB.

Alasan Mahathir menyerukan mosi tidak percaya karena, menurutnya, PM Najib sengaja membuat anggota parlemen berutang budi padanya dengan memberikan posisi-posisi menguntungkan dalam pemerintahan. Dengan kondisi ini, PM Najib tentu akan mendapat dukungan parlemen.

"Mosi tidak percaya diperlukan sekarang karena Najib telah membuat anggota parlemen dari Barisan Nasional berutang kepadanya, dengan memberikan mereka posisi-posisi yang menguntungkan dalam pemerintahan," tutur Mahathir dalam blognya, seperti dilansir Reuters, Jumat (21/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bahkan mereka yang awalnya datang kepada saya mengeluhkan pemerintahan Najib, setelah diberi jabatan di pemerintahan, sekarang mengubah posisi mereka," sindir Mahathir yang berusia 90 tahun ini.

Barisan Nasional (BN) merupakan koalisi pemerintahan yang dipimpin oleh PM Najib, yang mendominasi parlemen Malaysia saat ini. Dengan adanya mosi tidak percaya, maka pemerintahan harus mengundurkan diri, atau membubarkan parlemen dan mengadakan pemilihan umum yang baru.

PM Najib yang terseret skandal korupsi perusahaan investasi negara 1Malaysia Development Berhad (1MDB), mencopot Wakil Perdana Menteri Muhyiddin Yassin karena mengkritiknya, dan mengganti Jaksa Agung serta memindahkan pejabat-pejabat yang terlibat dalam penyelidikan 1MDB.

Mahathir yang awalnya menjadi pendukung PM Najib, berbalik menjadi pengkritik paling keras dan bahkan menyerukan PM Najib untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Tahun lalu, Mahathir yang masih menjadi tokoh berpengaruh di Malaysia ini, menarik dukungan dari PM Najib setelah koalisi BN meraih lebih sedikit suara dalam pemilu tahun 2013. (nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads