Korut Luncurkan Proyektil, Korsel Balas Menembakkan Artileri

Korut Luncurkan Proyektil, Korsel Balas Menembakkan Artileri

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 20 Agu 2015 17:13 WIB
Korut Luncurkan Proyektil, Korsel Balas Menembakkan Artileri
Ilustrasi (Thinkstock)
Seoul - Militer Korea Selatan melancarkan 10 peluru artileri ke wilayah Korea Utara. Hal ini setelah Korut menembakkan proyektil ke arah pengeras suara di perbatasan Korsel yang memberikan siaran anti-Korut.

Belum ada balasan lanjutan dari militer Korut atas serangan Korsel ini. Ketegangan antara kedua negara di Semenanjung Korea ini semakin meningkat. Demikian seperti dilansir Reuters, Kamis (20/8/2015).

Kementerian Pertahanan Korsel menuturkan, perlengkapan pendeteksi miliknya menangkap jejak sebuah objek diduga proyektil dari Korut yang ditembakkan sekitar pukul 15.32 waktu setempat. Proyektil Korut ini tidak merusak pengeras suara yang menjadi target dan juga tidak memicu korban luka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Militer kami meningkatkan pemantauan dan terus mengawasi pergerakan militer Korut," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Korsel.

Militer Korsel telah menaikkan status waspada mereka ke level tertinggi. Proyektil Korut dilaporkan jatuh di area perbatasan, sejauh 60 kilometer sebelah utara Seoul. Kantor berita Korsel, Yonhap melaporkan proyektil Korut jatuh ke area pegunungan dekat pangkalan militer Korsel di kota Yeoncheon.

Warga setempat yang tinggal di dekat area tersebut dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Sedangkan kantor Presiden Korsel di Seoul menggelar rapat mendadak dengan Badan Keamanan Nasional untuk membahas insiden ini.

Serangan terhadap pengeras suara ini diduga terkait kebijakan Korsel yang memberlakukan kembali taktik propaganda anti-Korut melalui pengeras suara di perbatasan kedua negara. Korut tidak terima dengan hal ini dan pada Sabtu (15/8/2015) mendesak Korsel menghentikan kebijakan pengeras suara ini atau menghadapi aksi militer. Tapi sejak Senin (17/8), Korut justru ikut melakukan kebijakan pengeras suara untuk menyiarkan propaganda anti-Korsel.

Kedua negara menghentikan kebijakan ini sejak tahun 2004 lalu. (nvc/nwk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini