Lacak Tersangka Bom Bangkok, Thailand Minta Bantuan Interpol

Lacak Tersangka Bom Bangkok, Thailand Minta Bantuan Interpol

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 20 Agu 2015 10:47 WIB
Lacak Tersangka Bom Bangkok, Thailand Minta Bantuan Interpol
Sketsa wajah tersangka utama bom Bangkok (REUTERS/Royal Thai Police/Handout via Reuters)
Bangkok - Otoritas Thailand meminta bantuan Interpol untuk melacak tersangka bom Bangkok, salah satunya warga negara asing. Kepolisian setempat telah mengirimkan sketsa wajah tersangka kepada Interpol.

Awalnya, otoritas Thailand enggan untuk minta bantuan pihak asing dalam penyelidikan insiden ledakan di dekat Kuil Erawan, yang menewaskan 21 orang dan melukai lebih dari 100 orang lainnya. Hingga kini, total tiga tersangka yang tengah diburu otoritas Thailand.

"Kami mengirimkan permohonan bantuan," ucap wakil juru bicara Kepolisian Nasional Thailand, Kissana Phathancharoen kepada Reuters, Kamis (20/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum ada pihak maupun kelompok tertentu yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan ini. Motif serangan bom ini juga belum diketahui pasti.

Kepolisian Thailand meyakini pria muda berkaos kuning yang terekam CCTV di lokasi kejadian pada 17 Agustus lalu, merupakan tersangka utama. Pada Rabu (19/8), polisi Thailand merilis sketsa wajah tersangka utama dan menyebutnya sebagai warga negara asing, namun tidak berbicara bahasa Inggris.

Kissana menyatakan, kepolisian Thailand tidak fokus pada negara atau wilayah tertentu, dengan mengajukan permohonan bantuan kepada Interpol. "Kami hanya mengirimkan modus operandi (tersangka) dan juga ciri-ciri tersangka yang kami cari," imbuhnya.

Surat perintah penangkapan bagi pria berkaos kuning yang disebut 'pria asing tak teridentifikasi' telah dikeluarkan. Selain pria berkaos kuning, polisi Thailand juga memburu dua tersangka lain yang juga terekam CCTV, yakni satu pria dengan pakaian warna merah dan satu pria berpakaian warna putih.

"Kami meyakini sedikitnya ada tiga orang yang terlibat, namun bisa juga ada lebih banyak yang terlibat," tandas Kissana. (nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads