"Ketika saya membungkuk untuk mengambilnya, saya mendengar ledakan," ujar pria berumur 55 tahun itu kepada media Malaysia, Malay Mail. "Berikutnya yang saya tahu, tak satu pun dari keluarga saya yang terlihat," imbuhnya seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (19/8/2015).
Neoh kehilangan istrinya, putranya, menantu laki-lakinya dan cucu perempuannya yang berumur 4 tahun serta kakak iparnya dalam serangan bom di Kuil Erawan tersebut. Dari keluarga Neoh, hanya Neoh dan putrinya yang sedang hamil, yang selamat dalam ledakan bom itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini belum ada pihak atau kelompok yang mengklaim serangan bom yang menewaskan 21 orang, termasuk nyaris separuhnya warga asing itu. Pemerintah Thai menyebut, serangan bom di jantung ibukota Bangkok itu dimaksudkan untuk menghancurkan perekonomian negara tersebut, yang sangat bergantung pada pariwisata.
Kepolisian Thai telah merilis foto seorang pria berkaos kuning yang terekam kamera keamanan (CCTV) beberapa saat sebelum bom meledak. Pria muda bertubuh kurus yang membawa tas ransel tersebut tampak berjalan mendekati kuil di hari kejadian. Dia terlihat meletakkan ranselnya dengan tenang di bawah sebuah bangku dan kemudian melangkah pergi.
Kuil Erawan, lokasi terjadinya ledakan, merupakan sudut yang ramai di dekat hotel, pusat perbelanjaan dan kantor. Kuil ini merupakan daya tarik wisata utama, khususnya bagi para pengunjung dari Asia Timur.
Kuil ini berada di persimpangan jalanan Ratchaprasong, Bangkok yang ramai dan kerap didatangi wisatawan. Pada Senin (17/8) malam waktu setempat saat ledakan terjadi, kuil ini tengah dipenuhi orang dan jalanan di sekitarnya padat kendaraan. (ita/ita)











































