Thailand Buru Tersangka Ledakan Bom Bangkok yang Terekam CCTV

Thailand Buru Tersangka Ledakan Bom Bangkok yang Terekam CCTV

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 18 Agu 2015 11:41 WIB
Thailand Buru Tersangka Ledakan Bom Bangkok yang Terekam CCTV
Foto: REUTERS/Athit Perawongmetha
Bangkok - Otoritas Thailand berhasil mengidentifikasi sedikitnya satu tersangka terkait ledakan bom di Kuil Erawan, Bangkok. Kini, otoritas Thailand tengah memburu tersangka yang tertangkap kamera keamanan (CCTV) di dekat lokasi kejadian ini.

"Hari ini, terdapat seorang tersangka yang terlihat dalam CCTV, tapi tidak begitu jelas... Kami tengah mencari pria ini," ujar Perdana Menteri Thailand, Prayut Chan-O-Cha seperti dilansir AFP, Selasa (18/8/2015)

Lebih lanjut, Prayut meyakini tersangka ini bagian dari kelompok antipemerintah yang berbasis di wilayah Thailand bagian timur laut, yang juga menjadi markas kuat gerakan antikudeta 'Kaos Merah'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ledakan bom yang mengguncang Kuil Erawan pada Senin (17/8) malam, menewaskan 21 orang dan melukai 123 orang. Dari jumlah tersebut, ada tujuh warga asing yang masuk dalam daftar korban tewas, antara lain dua warga China, dua warga Hong Kong, dua warga Malaysia dan satu warga Singapura.

Belum ada pihak maupun kelompok tertentu yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan ini. Namun otoritas Thailand tidak mengesampingkan dugaan keterlibatan kelompok manapun dalam ledakan ini.

Pernyataan Prayut yang menyebut kelompok antipemerintah mengarahkan fokus kasus ini pada kelompok yang loyal pada keluarga Shinawatra. Sebelumnya sempat muncul kecurigaan keterlibatan kelompok separatis di Thailand bagian selatan dalam ledakan ini, namun otoritas Thailand meragukan hal itu.

Dalam beberapa insiden ledakan kecil yang melanda Bangkok sebelumnya, otoritas Thailand selalu menyalahkan kelompok antipemerintah tersebut. Namun tudingan ini langsung dibantah oleh pemimpin kelompok tersebut. Kelompok Kaos Merah cenderung menargetkan tentara maupun gedung pemerintah dalam serangannya, namun sangat jarang melakukan serangan yang memicu banyak korban seperti ini. (nvc/ita)


Berita Terkait