Rajapaksa yang menjabat Presiden Sri Lanka selama dua periode, yakni antara tahun 2005-2015 ini dilengserkan oleh sekutunya sendiri dalam pemilu presiden pada Januari lalu. Rajapaksa yang memimpin Sri Lanka Freedom Party (SLFP) ini mengakhiri jabatannya pada 9 Januari 2015 lalu. Demikian seperti dilansir Reuters, Senin (17/8/2015).
Maithripala Sirisena yang kini menjabat Presiden Sri Lanka, mencalonkan diri sebagai capres dari partai rival dalam pemilu 8 Januari lalu untuk menantang langsung Rajapaksa. Sirisena menang dalam pemilu itu dan menolak untuk menunjuk Rajapaksa sebagai perdana menterinya, melainkan menunjuk sekutunya dari United National Party (UNP), Ranil Wickremesinghe sebagai PM Sri Lanka yang baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertikaian kedua tokoh ini mewarnai pemilu parlemen di negara dengan 20 juta penduduk ini. Sirisena bersama dengan aliansinya dari UNP berusaha mempertahankan posisi Wickremesinghe pada jabatan Perdana Menteri Sri Lanka. Namun jabatan yang sama, kini diincar oleh Rajapaksa.
Para pemilih di ibukota Kolombo menuturkan, mereka menggunakan hak suara mereka dalam pemilu kali ini demi rekonsiliasi dan pemerintahan yang baik. Beberapa pemilih menunjukkan simpati bagi PM Wickremesinghe.
"Saya datang untuk memilih demi pemerintahan yang adil ... agar rakyat bisa hidup selayaknya manusia," ucap warga setempat, Rushdi Halid, yang berprofesi sebagai pengacara kepada Reuters.
"Isu pentingnya adalah rekonsiliasi," tutur warga Sri Lanka lainnya, Rita, yang seorang biarawati.
Pemilu kali ini memperebutkan suara mayoritas untuk menempati 225 kursi dalam parlemen. Pengamat politik setempat, Paikiasothy Saravanamuttu menilai, menguatnya koalisi UNP bisa menyelesaikan 'pertikaian politik' yang berujung pada tercapainya reformasi yang terhenti akibat kurang kekuatan di parlemen. Pemungutan suara akan diakhiri pada pukul 16.00 waktu setempat dan hasil penghitungannya akan diumumkan pada Selasa (18/8) besok. (nvc/nrl)











































