Dalam pernyataannya, seperti dilansir Reuters, Jumat (14/8/2015), PM Abe juga menyatakan dirinya menegakkan kembali permintaan maaf pemerintah sebelumnya atas PD II yang memakan banyak korban jiwa. Namun PM Abe sendiri tidak menyampaikan permintaan maaf baru kepada publik.
Warisan perang masih menghantui hubungan Jepang dengan China dan Korea Selatan, yang banyak menderita di bawah penjajahan Jepang pada era PD II silam. Jepang menyerah dalam PD II pada 15 Agustus 1945. China dan Korsel menginginkan agar PM Abe tetap berpegang pada permohonan maaf sepenuh hati dari mantan PM Tomiichi Murayama pada tahun 1995 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Jepang, generasi pasca perang sekarang melebihi 80 persen dari populasi. Kita seharusnya tidak membiarkan anak-anak kita, cucu kita, dan bahkan generasi mendatang, yang tidak ada kaitannya dengan perang itu, ditakdirkan minta maaf. Namun demikian, kami bangsa Jepang, lintas generasi harus menghadapi sejarah masa lalu," imbuhnya.
Pernyataan PM Abe ini akan dianalisis dengan jelas oleh China dan juga Korsel, maupun oleh sekutunya, Amerika Serikat yang menginginkan ketegangan di Asia Timur diakhiri. Para pengamat sendiri menyebut sosok PM Abe sebagai sosok revisionis yang ingin mengingkari sisi gelap Jepang pada zaman perang.
Dalam pernyataannya, PM Abe juga menyebutkan penderitaan China pada masa perang dan mengharapkan agar China bisa menyadari perasaan Jepang yang sebenarnya. PM Abe juga berharap bisa bertemu dengan Presiden China Xi Jinping jika memungkinkan. (nvc/ita)











































