Hal tersebut disampaikan pakar komunikasi satelit Malaysia, Zaaim Redha Abdul Rahman dalam wawancara dengan kantor berita resmi Malaysia, Bernama seperti dilansir News.com.au, Kamis (13/8/2015).
Redha menekankan tentang kondisi flaperon yang relatif utuh mendukung dugaan bahwa pesawat MH370 tersebut berhasil mendarat darurat di atas air sebelum kemudian tenggelam. Pesawat Boeing 777-200ER tersebut hilang dari radar tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia pada 8 Maret 2014 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakannya, kondisi flaperon yang relatif utuh menunjukkan bahwa saat mendarat di atas air, pesawat masih dalam kondisi utuh. Bagian sayap tersebut baru terlepas perlahan di dalam air setelah pesawat tenggelam.
"Jika MH370 jatuh dengan hentakan yang sangat keras, kita pasti akan melihat banyak serpihan kecil mengapung di lautan tak lama setelah itu," kata Redha.
Redha pun menyinggung tentang pesawat US Airways Flight 1549 yang sempat mengapung beberapa saat di Sungai Hudson, New York, AS pada tahun 2009 setelah dihantam burung yang menyebabkan kedua mesin mati. Matinya mesin menyebabkan pesawat mendarat darurat di atas permukaan air sungai.
Pandangan pakar Malaysia ini senada dengan yang disampaikan pakar aviasi Australia, Neil Hansford di hari flaperon tersebut ditemukan di Pulau La Reunion.
"Yang terlihat adalah bahwa pesawat masuk ke air secara terkendali dan begitu mesin-mesin mengenai air, mesin tersebut terpotong dan bagian ini (flaperon) persis berada di belakang salah satu mesin itu," tutur Hansford kepada AFP. (ita/ita)











































