Informasi lainnya menyebut Hillary sendiri yang menginstruksikan para stafnya untuk menyerahkan data email pribadi yang pernah digunakannya semasa menjabat Menlu AS pada periode 2009-2013 lalu.
"Menjadi harapan dia (Hillary-red) agar Departemen Luar Negeri dan lembaga-lembaga lainnya yang terlibat dalam proses pengkajian, dengan segera memilah-milah email yang layak dirilis ke publik dan perilisan dilakukan pada saat yang tepat dan transparan," ujar juru bicara kampanye Hillary, Nick Merrill kepada CBS News dan dilansir AFP, Rabu (12/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hillary menuai banyak kritikan karena keputusannya menggunakan email pribadi ketika menjabat Menteri Luar Negeri AS. Biro Investigasi Federal (FBI) tengah menyelidiki kemungkinan Hillary mengirimkan dan menerima informasi rahasia negara dengan email pribadi itu.
Bulan lalu, Inspektur Jenderal Komunitas Intelijen AS menemukan empat email yang dikirimkan melalui server pribadi tersebut, yang ternyata berisi informasi rahasia. Temuan ini yang memicu penyerahan salinan email dan server pribadi kepada FBI pada Selasa (11/8).
Pihak Departemen Luar Negeri AS mempersoalkan apakah email yang memicu kecurigaan ini diberi label 'rahasia' ketika dikirimkan. "Pegawai Departemen Luar Negeri AS menyebarkan email ini dalam sistem tak rahasia pada tahun 2009 dan 2011, dan beberapa diteruskan kepada Hillary. Email itu tidak ditandai sebagai email rahasia," ucap juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby. (nvc/ita)











































