Seperti dikutip dari BBC, Minggu (9/8/2015), setidaknya, akibat bom atom yang dijatuhkan di kota Nagasaki sebanyak 70.000 orang tewas. Hal tersebut terjadi tiga hari setelah kota Hiroshima di jatuhi oleh bom atom.
Namun, pidato Abe banyak mendapatkan kritikkan karena ia tidak menyampaikan komitmennya saat upacara peringatan di kota Hiroshima beberapa hari lalu. Nagasaki dipilih setelah target awal, kota Kokura hilang dari radar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabinet Abe, tahun lalu mengadopsi sebuah resolusi mengenai tafsiran konstitusi pasifis. Tafsiran tersebut dirancang oleh Amerika setelah Perang Dunia II, yang didalamnya dijelaskan bahwa Jepang dibiarkan membela sekutu yang diserang.
Walikota Nagasaki Tomihisa Taue lalu menyampaikan deklarasi damai pada upacara tersebut. Ia mengatakan ada sebuah kegelisahan tentang upaya Abe untuk mengubah konstitusi Jepang.
Sementara itu, Sumiteru Taniguchi (86), orang yang selamat dari serangan tersebut mengatakan bahwa ia tidak bisa menerima undang-undang baru yang dibuat oleh Abe. Undang-undang tersebut untuk pertama kalinya memungkinkan Jepang untuk terlibat dalam pertempuran dalam membela sekutu yang diserang sejak Perang Dunia II.
Dalam upacara tersebut, Taniguchi menggambarkan bahwa luka-luka yang dideritanya sangat mengerikan. Bicara dari tempat duduknya, Taniguchi menggambarkan lukanya seperti kain yang menggantung di lengan dan punggungnya.
Ketika Perdana Menteri Shinzo Abe duduk didekatnya, Taniguchi memperingatkan Abe untuk tidak ikut campur mengenai konstitusi Jepang. Seketika peserta bertepuk tangan dengan kerasnya, namun Abe tidak menunjukkan emosi dan tetap menatap lurus ke depan. (yds/imk)











































