Seperti dilansir CNN, Kamis (6/8/2015), puing pesawat yang dipastikan MH370 itu mengalami beberapa kerusakan kecil di bagian depan dan terdapat bekas terkoyak secara horisontal di bagian belakang. Flaperon merupakan salah satu bagian sayap pesawat yang bisa mengibas ke atas maupun ke bawah.
Teori pertama menyebut, kerusakan flaperon memberi indikasi pesawat cenderung utuh saat mencapai air. Tidak banyaknya kerusakan di bagian depan flaperon menunjukkan kemungkinan pesawat dalam kecepatan tinggi, menukik, terbang spiral dan bagian flaperon terus mengibas sebelum terlepas. Teori ini disampaikan kelompok pengamat independen yang dipimpin salah satu pendiri American Mobile Satellite Corp, Mike Exner dalam kajian awal mereka.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara terpisah, Presiden TECOP International, Inc, perusahaan konsultasi teknologi pesawat terbang, Hans Weber seperti dilansir Reuters, menuturkan bahwa langkah selanjutnya yang akan dilakukan penyidik ialah memeriksa potongan logam tipis dari flaperon itu di bawah mikroskop berkekuatan tinggi. Hal ini untuk mencari petunjuk pada struktur kristal logam terkait dampak yang terjadi saat pesawat jatuh.
Selanjutnya, ucap Weber, penyidik akan membersihkan puing pesawat itu dan memeriksa lebih rinci. "Melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, dengan menggunakan analisis ultrasonik sebelum akhirnya membukanya untuk melihat apakah ada kerusakan internal. Ini akan memakan waktu cukup lama. Sebulan atau beberapa bulan," sebutnya.
Tapi untuk mengetahui lebih lanjut soal penyebab jatuhnya pesawat, penyidik tetap harus mendapatkan rekaman data pesawat yang ada pada kotak hitam. (nvc/ita)










































