70 Tahun Bom Hiroshima, Nenek Diputus Tunangan karena Takut Efek Radiasi

70 Tahun Bom Hiroshima, Nenek Diputus Tunangan karena Takut Efek Radiasi

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 05 Agu 2015 15:37 WIB
70 Tahun Bom Hiroshima, Nenek Diputus Tunangan karena Takut Efek Radiasi
70 tahun bom Hiroshima (Reuters)
Tokyo, - Pada 6 Agustus besok, rakyat Jepang akang mengenang 70 tahun tragedi bom Hiroshima. Peristiwa mengerikan itu tak akan pernah dilupakan oleh mereka yang selamat.

Koko Tanimoto Kondo, salah seorang yang selamat dari bom nuklir Amerika Serikat itu, kerap melakukan tur ke kota-kota di Jepang dan Amerika Serikat untuk berbagi kisahnya.

Seperti dilansir Wall Street Journal, Rabu (5/8/2015), nenek yang kini berumur 70 tahun itu mengaku pernah ditinggalkan oleh tunangannya, beberapa hari sebelum hari pernikahan mereka. Alasannya, keluarga sang tunangan asal Amerika itu khawatir bahwa radiasi nuklir akan membuat dirinya tak bisa hamil.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondo akhirnya dipersunting seorang pria Jepang yang menjadi pendeta. Mereka kemudian mengadopsi dua anak perempuan.

Saat bom nuklir dijatuhkan ke Hiroshima 7 dekade silam, Kondo masih berumur 8 bulan. Dia dan keluarganya berhasil selamat meski rumah mereka hancur dalam tragedi tersebut.

Peristiwa mengerikan itu berlangsung pada pukul 08.15 waktu setempat, tepat pada 6 Agustus 1945. Pesawat AS bernama Enola Gay yang dipiloti Kolonel Paul Tibbets, dengan rekannya Mayor Thomas W. Ferebee dan navigator Theodore Van Kirk, menjatuhkan bom seberat 64 kg ke Hiroshima.

Bom itu dijatuhkan dari ketinggian 31 ribu kaki dan meledak di titik 1.900 kaki. Meluapkan sebuah gumpalan asap nuklir hebat yang menyasar apa pun di sekitarnya dalam radius 1,6 kilometer. Awalnya, target bom tersebut adalah jembatan Aioi, namun karena angin kencang, target yang dikenai akhirnya sebuah klinik bernama Shima.

Pihak AS memprediksi, 12 kilometer persegi bagian dari kota itu hancur total. Pemerintah Jepang menyatakan, 69 persen gedung-gedung di Hiroshima hancur dan 6-7 persen mengalami kerusakan parah. Laporan saat itu mencatat, korban tewas dalam ledakan hebat tersebut mencapai 140 ribu orang lebih. Sebagian besar korban tewas saat ledakan terjadi, namun tak sedikit yang menghembuskan nafas terakhir beberapa hari kemudian karena radiasi dan efek luka bakar. (ita/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads