Anbar merupakan provinsi terbesar di Irak. Wilayah itu telah dilanda kekerasan sejak awal 2014 lalu, beberapa bulan sebelum ISIS melancarkan serangan besar-besaran, yang membuat kelompok radikal itu berhasil menguasai sebagian besar wilayah Irak.
Anbar saat ini menjadi fokus upaya pemerintah Irak untuk menghalau ISIS. Operasi militer besar-besaran tengah digelar di sejumlah bagian Anbar. Ditambah dengan serangan-serangan udara Amerika Serikat dan koalisi yang terjadi nyaris setiap hari di wilayah tersebut.
"Anbar telah terpukul parah... Lebih dari 1.500 sekolah telah rusak sebagian atau hancur total," tutur Eid Ammash, juru bicara dewan provinsi Anbar seperti dikutip AFP, Selasa (4/8/2015).
Wilayah Anbar membentang dari dari perbatasan Irak barat dengan Suriah, Yordania dan Arab Saudi di sepanjang Efrat hingga ke pinggiran Baghdad.
"Sebagian besar sekolah-sekolah ini ditargetkan langsung oleh geng penjahat Daesh," cetus Ammash menggunakan nama lain ISIS.
"Sekolah lainnya adalah tempat-tempat yang digunakan Daesh sebagai basis dan ditargetkan oleh pasukan keamanan Irak dan koalisi Angkatan Udara, atau semata-mata karena berada di garis depan pertempuran," imbuh Ammash.
Kondisi buruk di Anbar ini juga diikuti oleh beberapa wilayah lainnya di Irak yang terdampak akibat konflik ISIS, yang telah menyebabkan lebih dari tiga juta orang kehilangan tempat tinggal.
Menurut data terbaru dari badan PBB, lebih dari 70 persen anak-anak yang kehilangan tempat tinggal, tak punya akses ke pendidikan.
"Kebanyakan sekolah di wilayah-wilayah terdampak sudah terlalu padat atau beroperasi dalam dua dan tiga giliran guna mengakomodir permintaan dengan fasilitas kelas dasar yang terbatas," demikian laporan PBB. (ita/ita)











































