Sekutu Houthi Sebut Presiden Yaman Harus Diadili atas Pengkhianatan

Sekutu Houthi Sebut Presiden Yaman Harus Diadili atas Pengkhianatan

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 03 Agu 2015 17:49 WIB
Sekutu Houthi Sebut Presiden Yaman Harus Diadili atas Pengkhianatan
Abd-Rabbu Mansour Hadi (Reuters)
Sanaa - Mantan presiden Yaman yang juga sekutu kelompok pemberontak Houthi, menyerukan agar presiden Yaman saat ini, Abd-Rabbu Mansour Hadi diadili atas dakwaan pengkhianatan. Hal ini karena Presiden Hadi mengizinkan serangan udara koalisi Arab Saudi di wilayah Yaman.

Dalam artikel pada situs Huffington Post, seperti dilansir Reuters, Senin (3/8/2015), mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh menyebut serangan udara yang dilakukan koalisi Saudi dengan dalih membantu Presiden Hadi merupakan suatu kesalahan. Saat ini, Saudi yang notabene sekutu kuat Yaman, kini malah dianggap agresor oleh rakyat Yaman.

Tentara yang setia pada Saleh bertempur bersama pemberontak Houthi dalam konflik di Yaman. Posisi Saleh dan pendukungnya berperan penting dalam setiap upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik Yaman, karena Saleh masih memiliki dukungan besar dari kalangan militer dan birokrasi Yaman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Presiden Hadi yang kabur, telah meninggalkan tanggung jawab yang diberikan kepadanya dan meminta dilakukannya agresi terhadap rakyat dan tanah airnya sendiri dan dia sekarang adalah musuh seluruh rakyat Yaman," ujar Saleh saat wawancara dalam bahasa Arab dengan Huffington Post.

"Presiden Hadi yang kabur telah melakukan pengkhianatan besar ketika dia meminta Saudi dan intervensi asing ... Dia harus diadili, harus diserahkan kepada Mahkamah Pidana Internasional atas kejahatan yang dilakukannya dan inilah yang kami upayakan," imbuhnya.

Belum ada komentar dari Presiden Hadi terkait artikel ini. Presiden Hadi sebelumnya mengatakan, serangan udara koalisi Saudi dimaksudkan untuk membantu Yaman melawan kelompok yang berniat melakukan kudeta terhadap pemerintahannya.

Pemberontak Houthi keluar dari markas mereka di Yaman bagian utara pada September 2014 dan menguasai ibukota Sanaa, hingga memaksa Presiden Hadi melarikan diri ke Riyadh, Arab Saudi. Kemunculan Houthi memicu konflik sipil di wilayah Yaman hingga kini.

"Arab Saudi, setelah agresinya terhadap Yaman, bukan lagi negara bersahabat, melainkan agresor terhadap kelompok kami dan rakyat Yaman," tandas Saleh. (nvc/ita)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads